Komunitas Padhang Makhsyar #322: Sengketa Situng Pilpres: Kedzaliman Dilawan dengan Kedzaliman?

0
380
Foto Ketua KPU RI Arif Budiman ( berkacamata) diambil dari DetikNews

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Bahkan Tuhan pun dibilang tak adil–jika tak ada ridha dan kerelaan menerima—kunci keadilan itu kepercayaan dan kerelaan–jika tak rela dengan putusan Tuhan silakan mencari Tuhan lain selain Aku—

^^^
Dua ibu berebut bayi–saat keduanya berladang–ketika bayinya di taruh di batu besar sebelum seekor srigala menerkam salah satunya. Seorang Ibu yang lebih tua berkata kepada ibu yang lebih muda, bahwa bayi yang di mangsa srigala bukan bayinya. Lantas keduanya berselisih dan mendatangi Raja Daud as meminta keadilan.

Dihadapan raja Daud as–Ibu yang lebih tua memiliki hujjah yang lebih argumentatif dibanding Ibu yang lebih muda. Berdasar argument keduanya, Raja Daud as memutus: bahwa bayi yang selamat dan direbutkan itu adalah putra dari ibu yang lebih tua.

Konflik berlanjut–sebab keduanya masih belum puas sengan putusan Raja Daud as. Kemudian keduanya mendatangi Raja Sulaiman as–putra Daud as. Pertengkaran bertambah seru. Nabi Sulaiman as kemudian mengambil sebuah pisau dan hendak membelah bayi itu dibagi dua.

^^
Ibu yang lebih tua terdiam. Kontras dengan Ibu yang lebih muda yang menangis histeris dan memohon kepada Raja Sulaiman as–jangan dibelah bayinya dan berkata: ‘bayi itu adalah putra dari ibu yang lebih tua.”. Ia bermohon agar bayi itu tidak dibelah. Ia rela dan ridha menyerahkan bayi itu kepada ibu yang lebih tua.

Karena kasih sayang yang begitu besar kepada bayi di hadapannya, sang ibu muda ini tak sanggup melihat bayi tersebut mati dibelah dua. Meskipun ia sendiri tak tahu milik siapa pemilik bayi itu, biarlah dia mengalah agar anak di hadapannya dapat tetap hidup.

Mendengar ucapan ibu yang lebih muda, Nabi Sulaiman as akhirnya mengetahui bahwa bayi di hadapannya adalah milik sang ibu muda. Karena seorang ibu sejati tentu saja tak ingin anaknya terluka hanya karena hawa nafsu belaka. Nabi Sulaiman as pun akhirnya memberikan bayi tersebut kepada ibu yang lebih muda.

^^
Ummu Salamah ra bertutur: ‘Dua orang lelaki sedang bersengketa menghadap Rasulullah saw berkenan dengan harta waris lewat waktu dan pada keduanya tak ada terdapat lagi bukti”,

Rasulullah saw bersabda pada keduanya: ‘Kalian bertengkar dan menghadapku sedangkan aku tidak lain hanyalah seorang manusia biasa, boleh jadi diantara kalian ada yang lebih pintar beragumentasi, dan aku tidak bisa tidak–akan memutuskan sesuai dengan yang aku dengar dari kalian, maka jika aku telah putuskan untuk seorang dari kalian agar ia berhak atas sebagian dari hak saudaranya, hendaknya jangan kalian ambil. Aku hanya hendak menyingkirkan seberkas api neraka yang akan dibawa nya sebagai beban di tengkuknya pada hari kiamat”‘,

Maka kedua bersaudara itu menangis dan masing-masing dari keduanya berkata:’hakku atas harta waris itu aku berikan kepada saudaraku”, maka Rasululah saw pun bersabda: ‘Jika kalian berdua telah mengatakan begitu, maka pergi dan pulanglah, berbagilah antara kamu berdua–hendaknya kamu berdua saling melepaskan hak atas waris itu, lalu undilah antara kamu berdua–lalu hendaknya masing-masing kalian saling merelakan saudaranya menguasai harta itu”.

Mencari keadilan di hadapan Nabi saw pun harus dengan kepercayaan dan saling ridha. Jika niat awalnya sudah tidak percaya, maka semestinya mencari KPU lain–Bawaslu lain–dan MK yang lain–Hingga kedua belah pihak yang bersengketa percaya dan ridha. Jika memang niatnya adalah mengganti rezim–maka Pilpres adalah kezaliman terhadap rakyat–buang uang–waktu–pikiran–dan resiko sosial yang berat, dengan hasil yang kemudian dinafikkan

^^^
Allah tabaraka wataala berfirman:

‎فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

‘Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya” (QS al-Anbiya: 79)
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here