Komunitas Padhang Makhsyar #33: Jokowi Membalas

1
409
Foto diambil dari Suratkabar.id

KLIKMU.CO- Jokowi tetap tak bisa diduga. Bergerak aneh. Tidak terdeteksi bahkan di saat marah tetap dengan mimik tak berubah.

Meski suaranya sedikit berat dan bergetar. Tapi sudah cukup membuat lawan keder. Jokowi tak perlu mengaum seperti singa lapar untuk menunjukkan marah.

Apalagi hanya sekedar pidato dengan tangan menunjuk-nunjuk yang di rekam.

Mungkin dia tipe orang hemat energi. Tak perlu buang tenaga yang tidak perlu. Juga tak harus menggunakan cakar atau pisau belati untuk menyayat lawan hingga ulu hati.

Satu-satu lawan politiknya terpental. Tak perlu pembuktian untuk menyatakan si fulan jahat atau korup.

Seperti jurus “sayekti angin” menebas satu-satu kemudian menggulung di pusaran.

Dia menghisap kesaktian lawan, seperti Arya Penangsang . Membunuh setelah sebelumnya musuh diremukkan.

Saya pikir Jokowi juga orang yang sangat sabar. Entah berapa kali direndahkan dan dicela. Dari keturunan haram. Kader PKI. Diktator. Antek kapilaritas meski berwajah proletar. Hingga disebut tidak bisa apa-apa alias plonga plongo, tapi dia diam, selama hampir dua tahun menunggu, sambil memilah lawan dan mencari tahu titik lemahnya.

Dan tidak salah kalau kemudian Jokowi membalas meski kita tidak tahu pasti siapa mulai duluan. Itulah pertarungan. Juga pertaruhan. Apapun bisa terjadi.

Dan Jokowi telah mengitari rumah musuh. Dan maaf .. kencing di kandang lawan. Itulah cara singa jantan menunjukkan wilayah kekuasaannya. Dan lawan-nya pun berjatuhan saling menikam sendiri.

Siasah disusun. Pertemuan di gelar. Dengan isu yang tak jelas benar. Dan dukungan mahasiswa juga masih jauh. Mengandalkan massa FPI dan HTI untuk melumpuhkan kekuasaan negara sepertinya sikit peluang. Meski kemungkinan untuk itu tetap ada.

Kelompok 212 juga berpecahan, berebut terdepan dan berkuasa, kebiasaan umat Islam lama yang terus diulang.

Riuh di pergerakan tapi sepi eksekusi. Kemudian bermain sendiri-sendiri tanpa irama dan komando. Mungkin ini satu dari doa nabi yang tidak diijabah.

Pada sejarah revolusi kita butuh mahasiswa. Sebagai penggerak dan tenaga yang tak kenal kata berhenti.

7 juta umat Islam berkumpul pada dua aksi bela Islam agaknya tak mampu menjadi dinamit yang merubah. Sayang hanya perempuan, orang tua dan anak anak.

Tentu tak mampu menjadi picu revolusi. Ditambah legitimasi Imam Besar yang sibuk dengan urusannya sendiri.

Polarisasi konsep ideal perjuangan tak bisa dihindari. Barangkali Syiah Imamiyah ada benarnya, bahwa kita butuh Imam ma’shum yang tak punya luput.

Setidaknya Imam yang tidak pernah dianggap salah meski melakukan kesalahan. Hanya untuk mendapatkan pembenaran atas semua yang imam katakan.

Sebaran kekuatan FPI dan HTI juga tak merata bahkan sebagian malah memusuhi dan berbalik saling melawan.

Apalagi alumni 212 yang kemudian mengecil dengan tujuan yang semakin jauh. Pun beberapa tokoh (miss:Gatot- mantan Panglima) yang pernah di gadang menjadi alternatif perlahan hilang dari peredaran. Pada akhirnya kita kembali pada titik awal: absurd.

 

Kita boleh tak suka. Sementara Jokowi terus melenggang dengan kekuatan biasa, sayangnya belum ada lawan sebanding. Dan jangan lupa ini nusantara, tak bakal mau diperintah raja keturunan dari negeri seberang, siapapun itu.

Dan Jokowi bagi saya, adalah seperti seorang Presiden Muslim yang sebelumnya, yang menjalankan rukun Islam dan meyakini rukun iman. Dan manjalankan sesuai kemampuannya.

Maka apa ada alasan untuk menempatkan Jokowi sebagai musuh Islam. Kecuali karena kepentingan politik yang berbeda dan masalahnya adalah kapan bakal ada kepentingan politik yang sama.

Satunya cara adalah dukung dan rangkul siapapun Presiden-nya tanpa melihat dari partai atau golongan mana berasal.

Sebab tugas utama ulama adalah menjaga umat tetap kukuh bersatu dalam Islam bukan menjaga aliran atau politik yang kebetulan di anuti.

Dibutuhkan ulama Islam dengan dada seluas samudra untuk menerima perbedaan dan keragaman tanpa cela … sebab ulama hakikatnya adalah gembala sebagai mana para nabi juga gembala, maka : Presiden adalah kambing gembalanya .. Maka tak elok bila seorang penggembala (ulama) memusuhi domba gembala-anya berebut padhang rumput .

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here