Komunitas Padhang Makhsyar #332: Politic Crime: Muhammadiyah dan Resiko Kalah

0
173
Foto K.H.Nurbani Yusuf ( peci hitam) diambil oleh habibie

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Politik adalah soal kalah dan menang. Tak elok ketika mendukung capres kalah lantas minta diperlakukan sebagai pendukung capres menang. Bukankah Socrates juga dibui–dihukum mati dengan cara minum racun karena berada di kubu yang kalah—

*^^*
Penangkapan terhadap beberapa tokoh Muhammadiyah dengan tuduhan makar harus disikapi dengan pikiran bersih dan hati tenang. Kita sedang berada pada tahap dimana saling memberi umpan dan bergantung reaksi yang diberikan. Tindakan irasional justru akan menjadi pembenar bagi lawan untuk menyerang. Lawan politik hanya hendak melihat seberapa besar sikap politik ulama dan pimpinan Persyarikatan didukung dan dibela jamaahnya atau lebih tegasnya apakah sikap kepolitikan pak Amien–Dahnil–UBN–Mustafa Nahra adalah representasi sikap organisasi dan jamaah atau hanya sikap personal. Ilustrasi politik ini menjadi sangat penting bagi rezim–untuk mengambil kebijakan dan menentukan sikap terhadap Muhammadiyah ke depan termasuk memilah manakah yang bisa diajak bekerja sama atau dibuang sama sekali.

Bagi Muhammadiyah–Kembali ke Khittah menjadi pilihan paling rasional untuk menyelamatkan dari pusaran konflik politik. Tetap berada di tengah sebagai pengadil yang adil menyikapi berbagai konflik dan bukan menjadi bagian dari pertengkaran karena melibatkan diri dalam urusan kepentingan politik kelompok. Nahy munkar MUHAMADIYAH bukan membela capres yang kalah. Tapi berpihak pada keadilan secara intergral holistik mengedepankan masa depan kebangsaan dan ke-umatan.

Politik memang semacam bermain peran: ada rule game mesti tidak bisa dibaca–ada sutradara meski tidak bisa di lihat–juga ada aktor–penulis naskah–peran pembantu–pemasaran–termasuk produser dan penyandang dana.

Memang tidak bisa tegas. Siapa menjadi apa. Tapi permainan politik terus mengalir seperti air dan melindas siapapun yang ada dihadapan tanpa kecuali termasuk Muhammadiyah–Persyarikatan tua kaya pengalaman–harus di uji apakah punya kemampuan cukup bagaimana bermain politik dengan cantik.

*^^*
Kasat mata secara intstirusional–MUHAMADIYAH tidak terlibat dalam politik partisan salah satu capres sebagaimana tertulis dalam qaidah organisasi yang belum diubah–tapi secara jelas bisa dicandra l–bahwa banyak aktifis Persyarikatan berada mendukung di kubu pasangan Prabowo Sandi dengan berbagai alasan–artinya MUHAMADIYAH berada pada kubu capres kalah. Bahkan tidak sengaja beberapa aktifis dan pimpinan Persyarikatan malah terlihat lebih politis ketimbang partai politik. Dalam beberapa aspek aktifis muhammadiyah juga kerap mengambil peran sebagai timses–Bawaslu atau pengamat partisan–sebuah keniscayaan yang tak bisa dibantah.

MUHAMMADIYAH mungkin tidak terlibat secara praktis meski secara personal pak Amien, Dahnil, UBN, Mustafa Nahra dan beberapa pimpinan dan ulama Persyarikatan secara benderang berada di Koalisi Indoenesia makmur, adalah keniscayaan politik bahwa MUHAMADIYAH secara personal mendukung Paslon 02. Bahkan di grup grup wa resmi hal demikian nampak sangat jelas sekali tanpa sembunyi.

Semua mengandung konsekuensi–termasuk ketika capres yang di dukung kalah dan Muhammadiyah harus siap menanggung semua resiko. Sebagai imbas bermain api. Di sinilah skill politik pimpinan di semua level diuji–saatnya pembuktian apakah memang benar berpengalaman dan punya warga cerdas sebagaimana kerap kita banggakan. Inilah tantangan besar yang harus kita jawab sebagai konsekuensi logis berada pada pihak yang kalah.

*^^*
Political Crime mungkin akan diberlakukan terhadap beberapa aktifis Persyarikatan yang terlibat praktis dalam proses politik pemenangan capres 02 atau terhadap MUHAMMADIYAH secara institusional berupa hukuman politik sebagai bentuk resiko mendukung capres yang kalah … berpolitik itu memang peddihh 🙏🙏🙏
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here