Komunitas Padhang Makhsyar #335: Beda Tipis: Nahy Munkar dan Back Up Perbuatan Makar

0
156
Foto K.H.Nurbani Yusuf ( peci hitam) diambil oleh habibie

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Apakah Muhammadiyah harus mengutuk Polri atau menuntut pemilu ulang atau membubarkan rezim ? Apakah ini pernyataan yang diinginkan ? Apakah ini nahy munkar ?

*^^*
Narasi politik identitas telah demikian mengeras. Sebagian malah tak lagi bisa bedakan antara narasi agama dan narasi politik yang dibalut agama: kezaliman, kafer, munafik, kriminalisasi ulama, nahy munkar, Islam bakal lenyap telah mengalami reduksi–apakah menjadi ranah politik atau ranah agama.

Politisasi agama telah demikian massif dan terstruktur–saya pikir inilah kemenangan yang lebih besar daripada jabatan Presiden yang banya berbatas lima tahun. Tapi FRAMING politik identitas: capresku tak bisa salah .. akan menjadi sebuah gurita yang sangat menentukan perjalanan bangsa ke depan.

Muhammadiyah berada pada pusaran konflik konsep identitas yang terus menggerus akal sehat menjadi akal jahat. Sebuah permufakatan untuk menggulingkan sebuah rezim dibebankan kepada Muhammadiyah. Ada upaya serius mendorong Muhammadiyah menjadi bagian terdepan tindakan inkonstitusional dan bamper politik kelompok tertentu atas nama nahy munkar.

Sebagian tidak bersabar dan menganggap Muhammadiyah kurang reaktif–melempem–lamban– tidak responsif bahkan ada yang keji menuduh Pimpinan Muhammadiyah sudah dibeli–satu fitnah keji terhadap ulama dan pimpinan Muhammadiyah. Saya menyangkal semua tuduhan itu–dan akan menjadi yang terdepan melakukan pembelaan terhadap sikap PP.

*^^*
Syahwat politik sebagian jamaah menjadi pemantik–menagih agar Muhammadiyah menjadi semacam pengawal revolusi–menumbangkan rezim atau apapun yang mereka inginkan. Muhammadiyah bukan pesawat tempur untuk bermanuver. Atau menjadi semacam buldozer atau kapal keruk pengangkut sampah segala kemungkaran bagi kelompok atau partai politik tertentu.

Realitasnya, konsep nahy munkar menjadi alat paling ampuh untuk membenarkan semua keinginan dan kehendak politik overdosis sebagian orang. Narasi politik telah diubah menjadi narasi agama yang bernuansa teologis. Lantas dicarikan pembenaran lewat ayat ayat.

*^^*
Imam besar Habib Rizieq Syihab, dan ustadz Bahtiar Nashir sedang khusyu’ Itikaf di tanah haram, Pak Prabowo ada di Dubai, FPI yang biasanya penuh ghirah pun rehat. BPN telah menyerahkan kepada MK. PA 212 juga sudah mencukupkan diri. AHY dan ZULHAS telah merapat ke istana sementara para anggota partai koalisi sibuk menghitung kursi di parlemen–kenapa ada sebagian yang ribut ?

Kenapa Muhamamdiyah diseret-seret ? Di saat yang lain sudah diam ? Jawabnya jelas : Karena aktifis politik Identias tak mau kehilangan legitimasi teologis– setelah FPI dan HTI tiarap, maka Muhamamdiyah menjadi alternatif, sebagai kapal pesiar yang layak dijadikan tempat persinggahan–syukur bisa mempengaruhi nahkoda untuk belok arah.

*^^*
Tugas para ulama Muhammadiyah menjadi sangat berat: antara tetap menjaga Khittah atau mengikuti syahwat politik–tugas yang lebih berat ketimbang membangun sebuah Univeritas–menjaga dan menyeimbangkan cara pandang adalah pekerjaan berat yang melelahkan–butuh energi dan pikiran jernih … saya bersyukur–semoga para ulama Muhammadiyah diberi keteguhan hati, keberkahan harta, kebersihan hati, kebeningan pikir dan kearifan dalam memutus perkara … aamiin

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here