Komunitas Padhang Makhsyar #339: Siapa Berhak Ambil Zakat, Menuju Indonesia Bersyari’ah

0
78
Foto Siswi SMP Negeri 16 Surabaya membagikan zakat fitrah ke warga sekitar diambil oleh hernawan

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Zakat itu tidak disetor atau diserahkan. Tidaklah disebut zakat jika tidak diambil di rumah-rumah–musnad Imam Ahmad.
Pada zaman nabi dan para sahabat– zakat bukan hanya soal teologis tapi juga punya bobot politiis–sebab mengingkari dari membayar zakat dikategorikan pembrontak dan diperangi.

*^^^*
Zakat tidak disetor tapi diambil. Amil juga berfungsi sebagai auditor dari para wajib zakat. Allah berfirman : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103)

Paradigma sedekah dalam Al Quran dibedakan antara sedekah dan infaq dalam konteks manfaat meski sering disebut sama; sedekah.

Zakat adalah sedekah wajib. Infaq adalah sedekah sunah. Ada tiga hal yang sering rancu: sedekah, zakat dan infaq. Ketiganya kerap tumpang tindih. Padahal memiliki urgensi dan konsekuensi berbeda baik dari aspek teologis maupun muamalah.

*^^*
Penerima zakat (sedekah wajib) dan infaq (sedekah sunah) juga berbeda dari sisi status sosial–kekerabatan–dan golongan.

Siapa berhak menerima zakat atau sedekah wajib–Allah berfirman; “Sesungguhnya zakat-zakat (sedekah wajib) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” At-Taubah : 60.

Siapa berhak menerima sedekah sunah atau infaq? Allah berfirman: ‘Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Al Baqarah 215

Penerima zakat atau sedekah wajib ada 8 asnaf sedang penerima infaq atau sedekah sunah ada 5 asnaf.

Zakat atau sedekah wajib (lebih afdhal) diserahkan lewat amil atau lembaga yang dibentuk mewakili negara (Baznas–Lazis) kemudian di kelola dan diberikan kepada yang berhak (8 asnaf). Invaq karena sifatnya personal dan sukarela maka boleh diserahkan sendiri kepada yang berhak tanpa atau melalui amil.

*^^^*
Lantas siapa berhak ambil zakat? Yang punya legalitas mengambil dan mengelola zakat adalah Negara atau lembaga yang dibentuk atau ditunjuk mewakili negara dibuktikan dengan legalitas hukum formal.

Rasulullah saw juga berfungsi sebagai amil sebab beliau adalah umara. Rasulullah saw berkewenangan mengambil dan membagikan zakat kepada yang berhak menerima. Rasulullah dan keluarganya diharamkan meneima zakat dan sedekah tapi boleh menerima hadiah.

Pada masa khilafah rasyidin–Umar Ibnul Khattab membentuk lembaga Baitul-amal–Baitl-amal inilah yang mengambil dan mengelola zakat kaum muslimin sebagai representasi kekhilafan.

*^^*
Dalam konteks kekinian negara adalah yang legal secara politis mengambil–menerima–mengelola –dan mendistribusikan sedekah : zakat dan invaq.

Negara mengambil zakat dari perusahaan perusahaan besar semisal: Sinar Mas, Lippo, Salim Grup, Jaga Kersa, Petral dan lainnya diambil zakatnya sebagai simbol ketundukan dan ketaatan kepada kekhilafan kemudian di taasarufkan kepada yang berhak menerima.

Negara harus hadir kapanpun–bahkan disaat sedang hendak bersenggema–mengatur kapan waktu aman dan tidak aman bersenggema–agar fertilitas dan mortalitas bisa dikendalikan —

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here