Komunitas Padhang Makhsyar #343: Kyai Ahmad Dahlan dan Reformasi Pendidikan

0
76
Foto Kyai Haji Ahmad Dahlan diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kita butuh failasuf—bukan sekedar hanya guru yang mengajarkan—NBY.
Sekolahpun keliru bila ia tidak tahu diri–bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini: Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia juga tak berhak menjadi perumus masa depan–GM

^^
Di awal berdiri—gagasan pendidikan Kyai Dahlan sangat istimewa karena mengajarkan mata pelajaran umum yang tidak ada di sekolah Islam tradisional—dan mengajarkan pendidikan agama Islam yang tidak ada di sekolah priyayi dan kompeni—gagasan pendidikan Kyai Dahlan menyelaraskan akal dan budi. Sederhana tapi luar biasa dahsyat—berakal saja tak cukup, murid-murid harus berbudi–berbudi saja tak cukup-para murid harus ber-akal—Kyai Dahlan tidak saja antitesis kondisi masyarakat nya tapi juga menjawab tuntas apa yang dibutuhkan pada eranya—setelah 100 tahun berjalan apa istimewanya Sekolah Muhammadiyah—bila hanya mengekor kebijakan Pemerintah .—ini pertanyaan besarnya—

Mungkin saja saya merindukan pada pandangan-pandangan progresif Prof Daoed Joesoef, penggagas multidisipliner dan pluridisipliner yang risau tentang kegagalan lembaga pendidikan melembagakan scientiific culture. Daoed Joesoef pernah bertarung keras dengan Buya HAMKA tentang libur ramadhan. Ironisnya gagasan yang awalnya dituduh sekuler itu —di belakang hari dijadikan model di sekolah-sekolah Islam modern yang padat aktifitas.

Pikiran beraninya tak susut–Bagi Daoed Joesoef kampus secara esensial adalah ”komunitas ilmiah dan bukan sekali-kali komunitas politik atau subkomunintas dari komunitas politik”. Bagi Daoed Joesoef sangat jelas: Mengembangkan scientific knowledge dan yang erat terkait dengan itu: scientific spirit, adalah urusan universitas. Maka NKK dan pembubaran dewan mahasiswa untuk memangkas aktifis politik kampus diterapkan untuk melawan politisasi kampus. Iapun diburu seperti musuh.

^^^
Mujaddid bukan hanya pintar tapi juga pemikir pemberani mengurai pandangan–ia juga ditagih pandai menjadikan gagasannya di dunia praktis. Tak banyak mujaddid memang. Tapi Kyai Dahlan salah satunya. Seorang pemikir pemberani yang briliant dan cekatan dalam bertindak.

Tanpa keberanian—MUHAMMADIYAH tak bakal lahir. Kyai Dahlan adalah pemikir pemberani–itulah mujaddid. Bukan hanya mengiyakan kata jamaahnya untuk mendapatkan legitimasi agar dipilih pada periode mendatang seperti para politisi. Tapi terus berpikir berani melawan logika publik. Beliau menyuarakan pemikiran dan kebaharuan–tidak berharap sanjung dan puji.

^^^
Pikiran berani Paolo Freire, patut disimak ditengah buntu: pengetahuan yang harus diberikan adalah pengetahuan yang praktis dalam kehidupan, seperti bagaimana hidup bertetangga, berorganisasi, menjadi warga masyarakat yang baik, menjaga lingkungan, menghormati orang tua dan hak-hak warga yang lain. Sayangnya, pengetahuan semacam itu hanya dijejalkan ke dalam otak anak didik. Mereka tidak dididik untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak pilihan memang agar sekolah-sekolah yang dikelola Persyarikatan menjadi ‘istimewah’ karena berbeda dengan sekolah kebanyakan. Gagasan Paolo Freira salah satunya.

Apakah visi pendidikan yang diselenggarakan persyarikatan kita sudah bersesuai dengan visi filantropi (teologi-al-maa’un) atau malah sebaliknya. Pendidikan kehilangan kewibawaan dan spirit bahkan di lain tempat malah melahirkan radikalisme–ekstrimis dan tuna adab. Karena para murid hanya dijejali ilmu tanpa tatakrama. Mengajarkan banyak teori. Dengan kurikulum yang sarat beban. Lulusannya menjadi beban karena tak punya ketrampilan hidup. Kita butuh reformis dan failasuf pendidik yang pemberani. Kita butuh Kyai Dahlan sekarang—yang pintar, cekatan dan berbudi.
Satu-satunya spirit yang tersisa dari sekolah-sekolah kita hanyalah pelajaran al Islam dan ke-muhammadiyah-an yang di berikan pada jam terakhir saat murid pada ngantuk atau 2 SKS pada mata kuliah sisa. Lalu apa istimewanya … .. 🙏🙏🙏🌹
Wallahu ta’ala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu, Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here