Komunitas Padhang Makhsyar #348: Jamaah Persyarikatan dan Politik Melankolis

0
91
Ilustrasi diambil dari steemit

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Begini akibatnya jika berpolitik dilakukan dengan melibatkan semua perasaan batin–segenap emosi–jiwa dan pikiran–tak salah memang–Jika kalah sakitnya juga tak terperi

*^^^*
Jika Prabowo adalah cinta mati–tak tergantikan–yang memenuhi semua isi relung hati–Prabowo adalah segalanya–tempat harapan dan masa depan yang lebih baik disandarkan. Maka Prabowo tak boleh kalah–tak boleh dikritik bahkan hanya sekedar memberi masukan sedikit sudah dianggap lawan padahal kita sama-sama memilihnya–

Politik sebagian warga Persyarikatan adalah politik cinta mati–bukan hanya sekadar soal rutinitas lima tahunan–ini soal jiwa dan perasaan yang tidak gampang dilupa. Betapapun berat ujian dan aral di hadapan tak membuat surut langkah.

Pilpres 2019, bagi sebagian warga Muhammadiyah ibarat gadis yang dipingit selama puluhan tahun kemudian dibebaskan dan diberi kesempatan. Adagium bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis telah menyandra sebagian aktifis yang memiliki syahwat politik berlebih bahkan partai amanat nasional saja tak cukup untuk melampiaskan hasrat politik yang sekian lama terpendam.

*^^^*
Semua yang berlebihan pasti mengandung mudharat–maka nabi menyarankan agar bersikap wajar dan biasa. Cintai secukupnya siapa tahu dia bakal menjadi lawanmu dan benci secukupnya siapa tahu dia bakal menjadi karibmu.

Dukungan yang berlebihan apalagi melibatkan emosi dan segenap perasaan akan mengakibatkan cinta buta–menolak kenyataan dan kebenaran—ujungnya gagal moveon–bergembira ria saat yang didukung menang atau patah hati saat yang didukung kalah. Beberapa kasus patah hati malah berakibat fatal: stres–depresi bahkan ada yang mencoba bunuh diri.

Ketika para partai pengusung sudah rehat dan melakukan agregasi politik–membangun koalisi baru atau rekonsiliasi pasca Pilpres–sebagian warga malah bertambah aktif berpolitik sambil terus meratapi kekalahan–bahkan menyatru siapapun yang tidak sepaham atau melawan yang tidak menunjukkan empati atas kekalahan–bagi sebagian orang–politik adalah bersetia hingga mati, maka siapapun yang membangun rekonsiliasi atau loby politik dianggap berkhianat—neraka tempatnya.

*^^*
Tak dimengerti kenapa jamaah yang dikenal rasional–kritis–dinamis dan terbuka ini tiba tiba menjadi melankolis ketika pasangan yang didukungnya kalah .. mungkin telah ada semacam migrasi ideologi yang luput dari perhatian … Wallahu taala a’lam

*Padma Community

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here