Komunitas Padhang Makhsyar #349: Kabinet Kerja Vs Kabinet Jatah

0
160
Foto diambil dari Ngopibareng.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Said Al Jumhi usai ditunjuk khalifah Umar Ibnul Khatthab sebagai gubernur berkata: Agar semua bekerja menurut kemampuan dan mendapatkan sesuai kebutuhan—

*^^*
Kabinet prerogratif. Berikanlah keleluasaan. Presiden dipilih langsung rakyat, bukan partai politik atau semisalnya–yang menagih banyak usai perhelatan berlangsung.
Kita butuh profesional yang bekerja keras–mandiri–ulet dan inovatif. Pernah disebut dengan nama zaken kabinet. Terdiri dari para profesional dan orang-orang ahli yang bisa bekerja–bukan pekerja politik paruh waktu dengan upah penuh. Setidaknya dalam urusan kabinet–Presiden Soeharto dengan kelebihan dan kekurangannya telah pernah melakukannya.

Pilpres telah usai. Pekerjaan politik telah tunai. Saatnya bekerja. Para politisi biarlah duduk di gedung parlemen. Berstrategi dan bersiasat membuat kebijakan dan membangun harapan agar bisa dipilih kembali tahun depan.

Tapi kabinet adalah soal lain. Kabinet adalah pembantu Presiden. Loyal dan bekerja untuk Presiden–bukan bekerja untuk kepentingan partai atau kepentingan ideologi tertentu.

*^^*
Semua orang bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan sesuai kebutuhan. Ini tak mudah–sebab tak gampang menakar kebutuhan dan kecukupan dalam waktu bersamaan–tapi penting untuk diwujudkan–jika ingin ada keadilan dan kemerataan sosial.

Kabinet bertugas membantu Presiden membuat atmosphere yang kondusif agar tak bekerja sendirian. Presiden dipilih langsung rakyat maka sudah seharusnya Presiden diberi keleluasaan memilih siapa yang pas membantunya bekerja. Jadi sudah bukan jamannya lagi partai meminta jatah kabinet atas nama dukungan sebagai partai pengusung. Jika koalisi hanya dipadankan dengan bagi-bagi kabinet dan jatah kursi, maka sungguh demokrasi telah mati. Kehilangan nuansa dan cakrawala pandang jauh kedepan.

Demokrasi bukan tujuan. Pilpres hanya alat. Tapi sayangnya banyak yang berhenti pada cara dan lupa pada tujuan. Selisih dan konflik kecil-kecil kerap menjadi hijab. Lantas berhenti dan tak pernah sampai di tujuan. Shakespeare pernah berilustrasi bahwa kebanyakan politisi hanyalah sekumpulan badhut dengan lelucon yang tidak lucu kecuali praktik konyol dan kekanak kanakkan.

*^^^*
Sayangnya demokrasi telah mengambil semua dan menjadikan politisi sebagai manusia paling penting. Setidaknya sebagian besar rakyat menyerahkan nasib. Lantas apa makna demokrasi sesungguhnya jika kekuasaan rakyat telah diwakilkan dengan cara bitingan di bilik suara yang kemudian diributkan–lantas beberapa kerumunan berebut jatah kabinet tanpa visi. Sebab demokrasi dipahami hanya sebuah cara menipu rakyat yang dibenarkan ramai. Wallahu a’lam

@PegiatĀ  Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here