Komunitas Padhang Makhsyar #350: Dimana Politik Berhenti, Mari Kita Olah Lahan Kita

0
45
Foto ilustrasi diambil dari edditok.blogspot.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Mereka yang mencampuri urusan pemerintahan kadang-kadang mati dengan nestapa — dan memang pantas begitu–tulis Voltaire yang gemas.

*^^^*
Mendengar ini Candide terkesan. Ia pun menganjurkan kepada teman-temannya: “Mari kita olah kebun kita”. Agar orang kembali tenteram dan berbuat dengan tangan dan kaki–bukan dengan pikiran dan otak.

Kalimat ini jadi mashur. Agaknya bagi Voltaire, kearifan bukanlah mengetahui apa arti hidup dan mengapa ada nasib buruk, sebab tak akan ada jawaban yang memuaskan. Yang penting: melakukan sesuatu yang praktis, dengan tangan dan kaki, bukan dengan mulut dan otak

Plato menyusun daftar syarat (axiomata) untuk berkuasa. Syarat ketujuh adalah “pilihan dewa-dewa” — sesuatu yang sebenarnya tak bisa diketahui. Ranciere menafsirkan ini sebagai tarikan undian, “le tirage au sort”: siapa saja mungkin beroleh. Agaknya dengan cara ini bisa dijelaskan kenapa Pilpres bisa dimenangkan atau dikalahkan dengan cara yang hanya para ‘dewa’ saja yang tahu.

Dalam keadaan itu, persaingan atau perebutan terjadi, dan politik bergerak. Juga ketika Candide sibuk mengolah kebunnya — yang esok mungkin direnggutkan dari tangannya.

Saya tak tahu,” jawab orang itu. “Saya tak pernah tahu nama-nama Mufti dan pejabat tinggi. Saya buta tentang kejadian yang tuan ceritakan. Ketika mendengar ada puluhan Mufti dihukum mati dengan cara dicekik. Dunia memang penuh dengan persaingan dan konflik. Di dataran Turky itu memang menyisakan banyak kenangan termasuk kisah pilu ratusan para pangeran yang lahir dari harem atau permaisuri yang ditelantarkan.

*^^^*
Jika sejak awal politik dipahami sebagai adu siasat dan strategi mestinya tuntutan curang tak perlu terjadi bukankah keduanya juga sudah bersepakat bahwa kecurangan adalah bagian dari pentas politik yang disetujui. Lantas kapan politik bisa berhenti .. tidak jawabku. Ini hanya soal cita rasa. Kita tak tahu, apakah dengan pragmatisme itu Candide bisa hidup tenang. Voltaire menutup bukunya seakan-akan mengelak dari kemungkinan bahwa jangan-jangan politik tak berhenti di pintu kebun–lantas untuk apa rekonsiliasi …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Padma Fondation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here