Komunitas Padhang Makhsyar #352: Migrasi Ideologi di Persyarikatan

0
135
Foto Ilustrasi dari liputan6com

KLIKMU.CO

Meski sudah hampir setengah abad menjadi aktifis Persyarikatan–jujur saya masih belum final menemukan ideologi yang bisa dipahami utuh. Apakah Wahaby atau Dahlaniyah. Puritan atau Tajdid. Tarbiyah atau Salafy. Miring ke kanan atau ke kiri. Selain daripada : Islam Berkemajuan.

Berbeda dengan NU yang tegas: Kalamnya bermazhab pada Al Asy’ary dan Al Maturidy. Fiqhnya pada mazhab Imam empat. Tasawufnya pada Imam Ghazali. Trisula yang kemudian dikenal dengan konsep Aswaja. Dan Aswaja tentu berbeda sangat jauh dengan ke-Muhammadiyahan 1 sks yang diajarkan selama satu semester di sekolah-sekolah kita.

Kadang kita Salafi–kadang juga Wahaby–meski kita tolak dengan berbagai dalih bahwa kita bukan Wahaby–kita juga bukan Salafy. –tapi siapa bisa bedakan aqidah yang dipahami Muhammadiyah dengan aqidah yang dipahami Wahaby. Begitu pula dalam aspek fiqh apakah bisa dibedakan antara Muhammadiyah dan Salafy.

^^
Bukankah hampir semua kita belajar tentang kitab Risalah Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan kitab Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al Bani ? Lantas apa bedanya jika hanya packaging saja yang beda sementara produk aqidah dan fiqhnya ternyata sama ?

Bukankah kita juga punya jargon yang sama: kembali pada Al Quran dan As Sunah. Jargon ini bersifat mujmal dan terbuka bagi siapapun untuk bisa masuk: Kita adalah Muhammadiyah meski dengan manhaj dan ideologi yang berbeda-beda.

Resiko tidak ber-mazhab juga bermakna menerima semua mazhab. Inilah yang kemudian kerap menjadi polemik yang tak kunjung padam. Keterbukaan ideologi Muhammadiyah adalah kekuatan sekaligus kelemahan.

^^^
Lantas ideologi Muhammadiyah itu apa ? Ini memang pertanyaan tabu tapi saya harus jujur bertanya ditengah centang perenang pergumulan Ideologi di Persyarikatan terutama menjelang dan usai Pilpres 2019 yang melelahkan.

Banyak yang gelisah melihat beberapa pernyataan dan sikap beberapa pimpinan dan jamaah menghadapi fenomena atau kasus kasus politik–ekonomi–sosial dan soal humanitas lainnya.

Apakah riuh gerakan aksi bela Islam bagian dari ghirah atau politisasi. Apakah boikot terhadap Starbucks–Indomaret dan Alfamart adalah sikap wasathiyah. Apakah Sikap anti China–anti Modernisasi adalah Dahlaniyah. Apakah fatwa haram rokok itu bukan Wahabi ? Dan banyak pertanyaan lainnya.

*^^^
Migrasi ideologi ditubuh Persyarikatan tidak hanya bersifat fisik tapi juga bermakna pada perubahan mainstream–mungkin baju nya masih bersimbol matahari tapi mungkin saja isinya telah berubah dan berwarna lain: bersimbol bendera tauhid atau berubah kuning kehitaman atau bahkan bersimbol pedang disilang semua serba niscaya sebab ideologi memang tak pernah bisa disandera.. ..
Wallahu taala a’lam.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu & Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here