Komunitas Padhang Makhsyar #354: Kawin Silang: Muhammadiyah-HTI-FPI

0
136
Foto diambil dari Yukepo.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Stigma bahwa Muhammadiyah adalah organisasi modern agaknya perlu di tata ulang. Konstruksi pemikiran peneliti luar ini tak selamanya benar sebab dinamika sosial politik telah berubah cepat melampaui pikiran para penggiatnya–

Penjelasan Prof Ahmad Jainuri Wakil Ketua PWM Jatim bisa dijadikan rujukan bagaimana bisa mengindikasi siapa modernis dan siapa tradisionalis menarik disimak:
‘ … Sebagai salah satu ciri kecenderungan ideologi keagamaan adalah selalu mengalami perubahan. Bisa saja dulu gerakan dikatakan modern sekarang menjadi konservatif, atau sebaliknya; yang sekuler menjadi puritan-fundamentalis. Dulu peneliti luar mengelompokkan Muhammadiyah sebagai gerakan modern dan NU tradisional, namun, sekarang, secara institusional, tidak bisa lagi digunakan untuk mendekati kedua gerakan tersebut. Intinya, orang tidak lagi melihat bahwa Muhammadiyah secara kelembagaan dan warga yang ada di dalamnya adalah representasi modern, demikian sebaliknya NU.

Untuk melihat keduanya, sekarang tidak lagi menggunakan pendekatan institusional, tetapi HARUS menggunakan pendekatan individual, yang menekankan karakteristik indivividu warga anggota kedua organisasi ini. Banyak masih warga Muhammadiyah yang masih modern, namun banyak pula yang konservatif. Demikian juga, banyak warga NU yang masih tradisional tetapi banyak pula yang sudah modern. Apa ukurannya ? … “.

^^
Pendekatan individual inilah yang akan menjadi titik pusat apakah modern–tradisional–puritan –fundamentalis atau liberal. Pengelompokan ini bukan pada tataran institusi kelembagaan
tapi lebih merujuk pada prilaku individual ketika beperan sebagai aktifis.

Muhammadiyah berkemajuan adalah jargon kelembagaan bukan personal individualistik. Jadi meski menyandang modern atau berkemajuan bisa saja para jemaatnya malah sebaliknya.

Bisa saja ada amal usaha milik Muhammadiyah berupa masjid atau sekolah atau lainnya yang sangat tradisional sementara di tempat lainnya sangat modern bergantung pada individu pengelolanya–sebaliknya NU meski ditabalkan sebagai organisasi tradisional bisa saja memiliki sekolah atau masjid yang modern–atau kolot semua bergantung Individunya sebagai penentu karakter modernis atau tradisionalis.

Maka Muhamamdiyah atau NU hanya semacam etalase. Sebagai ruang ekspresi atau tempat para penggiat memamerkan karyanya. Siapapun boleh berkarya kemuduan dipamerkan. UMM misalnya adalah karya fenomenal Prof Malik sudah pasti dikelola orang modern dan bukan orang orang puritan.

^^^
Kawin silang antar ideologi juga tak bisa dipungkiri–kedekatan kepentingan setidaknya telah memberi celah bagaimana beragam ideologi bisa saling menginviltrasi secara psikologis. MD, FPI dan HTI bisa saja saling mendekat karena sisi kepentingan yang mirip sama, meski secara fiqh furtual berbeda jauh.

Faktur kesamaan kepentingan politik agaknya bisa menepis perbedaan manhaj fiqh dan kalam di mana sebelumnya menjadi sesuatu perbedaan yang tak bisa di tawar.

Bajunya MD ber-ekspresi FPI dan berpikiran HTI atau Salafi dan Wahabi juga mungkin saja–kawin silang secara ideologis sangat niscaya dan natural sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik. Bukankah kita berada pada Dialektika yang sama menuju sintesis. MD bisa saja modern pada saat berdirinya karena Kyai Dahlan tapi berubah puritan setelah 100 tahun melangkah bergantung individunya–tak ada yang abadi maka semua harus di upgrade agar gerakan tetap uptodate.

^^^
Tapi siapa bisa cegah kawin silang ideologis .. ? bukankah ideologi hasil kawin silang sudah ada dan diterima publik, sebut saja: Post Modernisme, New Left atau Kiri Baru atau Komunis Hijau. Khilafah digital diterima dan dipuja-puja meski secara generik ditolak … “.
Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here