Komunitas Padhang Makhsyar #355: Khilafah Digital Vs Khilafah Generik

0
143
Foto diambil dari harakatuna.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Khilafah kehilangan keindahan karena para penggiat khilafah terjebak pada makna konvensionalnya–

^^^
Uber adalah sistem khilafah–sebuah perusahaan taksi terbesar di dunia meski tak punya kendaraan satupun.
Airbnb—adalah khilafah di bidang perhotelan terbesar di dunia, walaupun mereka tidak memiliki properti apapun. Khilafah itu menerabas batas.

Hakikat khilafah adalah kesatuan
wilayah–kesatuan perintah–kesatuan daulat–dan kesatuan lainnya yang universal dibawah rezim sunatullah berdasar hukum-hukum Allah. Khilafah itu sunatullah.

Bersatunya rezim: baik rezim ekonomi, rezim budaya, rezim sosial, rezim politik, rezim pendidikan atau lainnya dalam satu kepatuhan otentik itulah khilafah–jadi tak lagi ada sekat negara yang dibatasi wilayah: seperti laut–udara atau daratan yang dipagar besi. Uber–Airbnb-membangun kesatuan rezim bisnis menerabas batas wilayah–itulah khilafah–Uni Eropa Raya adalah khilafah. Uber dan Grab menuju kesatuan gerak dan perintah. Haji dan umrah menyusul sebentar lagi. Itulah khilafah.

^^
Makna generik Khilafah (Arab: الخلافة‎, Al-Khilāfah) didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin–demikian Imam Al Mawardi menjelaskan. Hanya menjelaskan simbol kekuasaan dan satunya gerak yang menyatu.

Definisi diatas–jujur kerap menjebak–dan tak cukup konsep untuk menjelaskan model khilafah yang dikehendaki–sebab sering dipahami terlalu politis. Apalagi jika kemudian khilafah dipadankan sekumpulan berbaju gamis-bersurban dan berjenggot. Khilafah mengalami reduksi makna dari yang substantif.

Khilafah sebagai sebuah sistem adalah aplikasi Inter-Koneksitas dalam semua urusan mu’amalah: ekonomi–budaya–sosial termasuk politik dan kekuasaan. Ini kata kuncinya. Penguasa khilafah adalah seorang khalifah atau semacam “admin” sebagai amirul mu’minin yang mengurusi semua urusan ke-umatan. Bukan hanya urusan politik praktis tapi meliputi semua aspek.


Dengan definisi Khilafah yang terbarukan mestinya dapat mengubah mimdsite kita–bahwa khilafah sebenarnya hanyalah sebuah sistem aplikasi yang komplet yang ditawarkan Tuhan sebagai sunatullah.

Sayangnya kita keburu takut. Semacam phobia akut yang sulit sembuh. Karena pikiran kita terlalu politis maka apapun yang berkaitan dengan khilafah selalu dihubungkan dengan pilihan Presiden atau ideologi–sehingga para aktifis khilafah dianggap makar karena mengganggu stabilitas.

Khilafah adalah sunatullah. Kenapa ditakutkan. Hanya semacam kekuasaan yang digerakkan oleh sistem yang dipusatkan. Sayangnya Khilafah hanya di kerutkan pada urusan politik. Semacam pilihan RT atau RW atau pilihan Presiden. Itu khilafah generik–pikiran klasik atau semacam definisi sempit karena kurang ngopi.

Khilafah sudah terbangun–tangan Tuhan tengah bekerja–semua terkoneksi–bahkan seorang Presiden tak bisa berkuasa sendirian–ada admin yang menggerakkan. Semua kita sedang menuju kesana tak satupun kuasa menolak.

Pernahkah berpikir–dengan cara apa amirul mukminin-membuat milyaran manusia dari beragam agama–suku–bahasa–warna kulit dan ras ditundukan dan patuh … ?

Jadi kenapa harus takut dengan khilafah … ? 👍🌹🌹ini bukan pyur ideologi–tapi soal ngopi di sruput tipis-tipis, salam hangat ..

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here