Komunitas Padhang Makhsyar #48: Krestening Politik Vs Islam Politik

0
248
Foto Ilustrasi diambil dari hidupkatolik .com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta anggota kongres Ilhan Omar mengundurkan diri atau dilarang gabung dalam komite-komite Kongres. Hal itu sebagai hukuman atas komentar Ilham yang dianggap anti-Semit.

Anggota legislatif yang baru terpilih tahun lalu itu secara tersirat mengatakan, AS hanya mendukung Israel karena uang.
“Anti-Semitisme tidak memiliki tempat di Kongres Amerika Serikat,” kata Trump dalam pertemuan kabinet di Gedung Putih.

“Dan saya pikir, dia harus mengundurkan diri dari Kongres atau dia pasti harus mengundurkan diri dari Komite Urusan Luar Negeri House,” ujarnya seperti dilansir The Hill,

*^^^*
Setidaknya ada tiga prilaku politik PSI yang menurut saya sangat kental aroma Kresten nya: pertama penolakan terhadap Perda syariah, kedua menolak poligami dan ketiga deregulasi pendirian tempat ibadah. PSI dan Grace Nathali seakan menjadi juru imbang agar Indonesia tidak menjadi negara agama.

Dengan jumlah pemeluk lebih 15%, hampir mustahil mereka tak punya partai politik sendiri. Ada beberapa alasan memang, kenapa orang Kresten tak membangun politik identitas. Seperti halnya umat Islam yang justru bersemangat membangun politik identitas. Partai Damai Sejahtera dan Partai Kresten Indonesia memang tak semoncer yang diharapkan, namun setidaknya menjadi alasan bahwa partai politik dengan simbol Kresten tidak membawa hoki.

Berkaca dari pengalaman politik masa lalu, Kresten politik cepat belajar dan meninggalkan politik identitas dan masuk pada politik substantif. Kresten menjauh dari riuh konflik politik kekuasaan. Tapi sangat kuat dan menguasai infrastruktur politik dari hulu hingga hilir, hal mana justru diabaikanI slam politik yang lebih mengejar simbol dan identitas dan kerap terjebak konflik sendiri. Seteru antara ijtima ulama yang merepresentasi Islam garis keras yang mendukung Paslon 02 dan Islam nusantara atau Islam moderat yang mendukung Paslon 01 adalah bukti otentik bahwa politik identitas yang diperankan Islam banyak mudharat nya.

*^^*
Krestening politik justru lebih bebas bermain, tanpa harus menanggung ongkos politik identitas yang sangat mahal. Pertaruhan ideologi dan kepentingan Kresten tak harus dikurbankan untuk sejumput kekuasaan yang di perebutkan. Sebagai mana Islam politik yang mengedepankan identitas ketimbang substansi.

Krestening politik hampir ada di semua partai bahkan di Partai yang Paslon capresnya di dukung ijtima ulama sekalipun Krestening politik berdiri kokoh dan mengambil peran semua kebijakan penting. Pun dengan partai-partai besar lainnya yang berhaluan nasionalis sekuler, kader-kader politisi Krestening politik menempati posisi kunci. Bahkan di militer dan birokrasi Krestening politik lincah bermain tanpa harus menunjukkan identitas.

Mungkin Krestening politik menuruti nasehat Prof Amien Rais saat beliau menjadi ketua PP Muhammadiyah tentang High Politik. Politik laksana garam. Politik MUHAMADIYAH harus ada di mana-mana laksana garam tidak terlihat tapi sangat terasa. Dan Krestening politik mampu dengan cerdas memainkan peran politik tinggi. Lincah, gesit, adaptif dan ada di semua lini. Mereka kompak bermain seperti orkestra, meski berbeda tapi menghasilkan suara indah.

*^^*
Bukankah politik hanyalah sebuah siasat dan strategi mempengaruhi kebijakan publik. Partai politik berikut perangkatnya hanya salah satu media bukan tujuan. Sayangnya sebagian besar politisi Islam terjebak pada alat yang dikira sebagai tujuan. Benar kata Prof Din: Islam politik itu ramai di permainan tapi miskin gol. Krestening politik sudah bicara agenda 20 bahkan 50 tahun renstra Indoenesia ke depan sebaliknya ada sebagian umat Islam yang masih belajar pasang banner di pinggir jalan …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here