Komunitas Padhang Makhsyar #496: Mimpi Tentang Ikhtiar Membangun Model Masyarakat Ilmu di Persyarikatan

0
86
Foto diambil dari Rumaysho.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jujur saya tak percaya dengan anggapan bahwa PTM kita masih dalam tahap “memperoleh eksistensi dan akreditasi” …. belum sampai pada tahap kontribusi. Selama ini PTM tidak didesain untuk kritis pada isu publik. PTM kita didesain untuk membantu para duafa dapat pendidikan layak dan bisa punya kesempatan mobilitas vertikal. Ini hanya issu, saya tak percaya—🙏

^^^
Membayang ada puluhan Perguruan Tinggi Muhammadiyah(PTM) membangun holding keilmuan–ratusan pimpinan dan pengurus dengan deret gelar akademik panjang, maka tak salah jika disebut berkemajuan dan modern. Sebab sebagian besar jamaahnya adalah kaum terpelajar yang terdidik. Tapi benarkah ?

Ada dugaan bahwa modernisasi yang di gagas Kyai Dahlan 100 tahun silam kehilangan ghirah–ada titik kusut. Ada dugaan Gerakan Amal lebih dominan ketimbang Gerakan Pemikiran (state of mind). Belum lagi still purifikasi sebagian aktifis mulai tampil dominan dibanding tajdid. Sesuatu yang dicemaskan Kyai Dahlan terjadi.

Belum ada kajian khusus memang–tapi ‘perasaan’ saya merasa demikian. Meski berharap tak benar. Tapi apa salahnya kita melakukan muhasabah untuk mengurai titik jenuh–syukur para ulama dan cendekiawan di Persyarikatan bisa memulai tajdid jilid 2 setelah 100 tahun Kyai Dahlan berlalu.

^^^
Dua patahan paradigma seni untuk seni dan seni untuk rakyat gagasan Maxim Gorkhy mungkin bisa dikonfersi–untuk membangun paradigma masyarakat ilmu di Persyarikatan sebagai model yang di idealkan. Belum lahir tradisi keilmuan yang tumbuh dari bawah–sebab kampus-kampus yang ada lebih banyak berfungsi sebagai simbol.

Kampus sebagai masyarakat ilmu dan jamaah persyarikatan adalah dua hal berbeda. Belum ada komunikasi intens. Keduanya berjalan sendiri-sendiri. Ini yang mesti segera diubah. Kerap terjadi distorsi. Banyaknya kampus bisa menjadi kekuatan yang membanggakan sekaligus kelemahan yang saling menafikkan sebab fastabiqul-khairat bisa bermakna tumbuh saling mematikan dengan kekuatan kecil-kecil tapi terpisah.

Tradisi keilmuan di kampus berbeda bahkan berbanding terbalik, dengan realitas jamaah sebagai komunitas penyangga, akibatnya banyak hal yang tidak bisa dipadankan bahkan cenderung saling menafikkan.

^^^
Memang agak ironis dan belum ada kajian komprehensif kemana larinya ratusan ribu alumni kampus-kampus di Persyarikatan berlabuh–sehingga tak cukup signifikan mempengaruhi sikap keilmuan Persyarikatan.

Kajian macam ini tentu tak mudah. Pendekatan sejarah (Historical Approach) untuk mencandra pemikiran para ulama Muhammadiyah menjadi urgen untuk bisa mengilustrasikan bagaimana tradisi keilmuan para ulama dan foundhing father di Persyarikatan dibentuk dan pengaruhnya terhadap jamaah akar rumput dari berbagai latar belakang status.

Alfert Shcultz mungkin bisa membantu menganalisis kecenderungan fenomenologis para ulama dan jamaah akar rumput untuk melahirkan model masyarakat ilmu yang berkemajuan itu betul adanya.

^^
Lahirnya masyarakat ilmu di Persyarikatan sangat urgen dan strategis untuk menjawab kebutuhan publik yang berkembang dinamis–para ulama dan cendekiawan kampus harus turun gunung bersama jamaah akar rumput membangun tradisi berkemajuan–sudah saatnya PTM meninggalkan istana emasnya dan berkontribusi langsung terhadap kebutuhan publik. Berbagai studi dan riset diarahkan–bergerak bersama sebagai sebuah kekuatan alternatif. Pelembagaan tradisi keilmuan sebagai ikhtiar membangun model masyarakat ilmu di Persyarikatan.

Mesti harus ada model gerakan pemikiran yang lahir dari kampus Muhammadiyah (PTM) sebagai pelopor untuk menjawab persoalan publik (keumatan dan kebangsaan), cara ini harus ditempuh jika ingin tetap eksis–tantangan ke depan makin keras–Muhammadiyah punya potensi besar–sayang masih berserak dan bergerak sendiri-sendiri–tinggal punya mau apa tidak ..

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here