Komunitas Padhang Makhsyar #497: Negara Penjaga Malam

0
345
Foto diambil dari Geek Culture

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Dan Polisi pun mengambil peran Dwi Fungsi yang dulu pernah dibuang saat reformasi.

Siapa sebenarnya yang sakit, (negara atau rakyat) ketika polisi terasa begitu dibutuhkan untuk menjaga keamanan–

^^^
Saya bukan saja setuju dengan revisi UU KPK, bahkan lebih dari itu–KPK mestinya ditiadakan–pun dengan kepolisian, tidak hanya personil yang dikurangi tapi juga wewenang dan fungsinya. Dua lembaga ini terbukti tak cukup efektif mencegah kemungkaran. Korupsi dan kejahatan tak kunjung berkurang, bahkan ada kecenderungan bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Negara yang tak sehat–butuh banyak penjaga.

Salah satu amanat reformasi adalah memisahkan polri dari TNI dan menghapus peran dwi fungsi ABRI–tapi ironisnya peran Dwi Fungsi itu malah diambil polisi.

Pasca pisah dengan TNI sebagai tuntutan reformasi, terjadi reformasi mendasar di tubuh polisi, dari pola rekruitmen, perencanaan SDM, tata kelola, sampai masifnya kermalurgi. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan anggaran yang juga signifikan. Jadi wajar kalau kualitas dan kuantitas elit Polri begitu outstanding. Implikasinya tentu saja daya tawar kelembagaan semakin kuat. Hal yang sama sekali tidak di duga. Saya pikir ini implikasi reformasi politik dan kebijakan pertahanan.

Dwifungsi adalah gagasan yang diterapkan oleh Pemerintahan Orde Baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas, yaitu pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dua peran inilah yang kemudian nampak diperankan polisi pada masa reformasi. Modernisasi kepolisian telah menjelma menjadi sebuah kekuatan pertahanan yang kuat, menjaga keamanan dan mengatur negara sekaligus. Elite kepolisian kompetitif dan banyak menduduki jabatan penting. Kabar gembira sekaligus indikasi bahwa fungsi polisi sebagai penjaga malam begitu terlihat, satu kemunduran bagi demokrasi.

^^^
Di mana curiga tumbuh, disitu ada polisi–rakyat tak percaya sama negara, pun sebaliknya, begitu pula sesama rakyat juga terus merawat rasa curiga–negara yang curiga butuh penjaga. Penjaga dibutuhkan karena sistem yang buruk. Tesisnya adalah: Semakin kuat kepolisian tanda lemahnya posisi negara dihadapkan rakyat.

Dalam filsafat politik libertarian, ‘negara penjaga malam’ adalah model negara yang menjalankan fungsinya hanya untuk menjaga negara dari prilaku jahat warganya dengan polisi, dan pengadilan, atau lembaga dan komisi yang berfungsi sebagai ‘penjaga malam–sebagai piranti untuk melindungi negara dari agresi, pencurian, pelanggaran kontrak, penipuan, dan kejahatan lainnya.

Negara polisi (bukan polisi negara) menjadi niscaya–yang menandakan bahwa pemerintah memegang kekuasaan arbitrasi melalui kekuatan pasukan polisi. Awalnya istilah tersebut ditujukan kepada sebuah negara yang diatur oleh sebuah pemerintahan sipil, tetapi sejak permulaan abad ke-20, istilah tersebut telah “dipakai sebagai pengartian emosional atau ejekan” dengan mendeskripsikan sebuah negara yang di-karakerisktik-kan dengan keberadaan otoritas sipil yang berlebihan.

Pelajaran dari sejarah: ketika iklim politik penuh curiga, kita terlalu mudah menghakimi. Dan polisi jadi jujugan setiap sengkarut–sebab negara takut dijarah. Mungkin saja terlalu kaya atau menyimpan banyak hak rakyat yang urung dibagi …

^^
Ironisnya institusi polisi makin kuat justru ditumbuhkan oleh mereka yang katanya tak suka–berbagai konflik politik ujungnya ke meja polisi, bahkan berbagai sengketa lainnya semisal agama dan ras juga termasuk, jadilah polisi sebagai kekuatan superior, yang mengukuhkan sebagai simbol
negara penjaga malam .. .. Dan kita ikut menyokongnya tanpa terasa.
Wallahu taala a’lam

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here