Komunitas Padhang Makhsyar #499: Seteru KPAI dan Raksasa Tembakau

0
209
Foto diambil dari Indosport

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Tidak mau saya diganti, diganggu gugat, didikte. Suruh ganti nama , ganti logo. Itu adalah urusan internal kami. Kami punya hak untuk mengatur diri sendiri, kata Yoppy Rosimin Ketua PB Jarum di depan Komisi Perlindungan Anak. Raksasa tembakau ini mengaum.

^^^
Seteru Komisi Perlindungan Anak Indonesia terlihat setengah hati–kurang taji dan kalah di akhir mediasi. Maunya melindungi anak dari eksploitasi raksasa tembakau yang di bungkus pembinaan. Sayangnya tak punya solusi. Nasib komisi-komisi macam begini selalu sama–tidak dihitung dan selalu kalah dengan para kapitalis.

Semua menjadi dilematis. Prestasi butuh biaya besar. Dan PT Jarum Kudus punya segalanya. Sumber daya manusia. Uang dan modal sosial. Lantas kita mau apa? Ancaman mundur PB Jarum cukup membuat KPAI surut langkah. Raksasa tembakau ini begitu perkasa. Aum-nya membuat KPAI ketakutan.

Anak-anak tidak merokok, hanya kebetulan mereka di duga menjadi iklan sebuah merek rokok. PB jarum cukup sukses menjadi pemasok pemain bulu tangkis terbaik lewat biaya CSR-nya. Tapi undang-undang tak membolehkan anak-anak terlibat pada iklan rokok. Disitulah rumitnya.

^^^
Fatwa haram rokok terbukti tidak efektif. Bahkan ada kesan ditertawakan dan dibuat lucu. Hanya berlaku bagi sekelompok atau komunitas kecil yang sejak mula memang bukan komunitas perokok. Lantas dimana urgensinya.

Pun dengan peringatan Pemerintah, merokok membunuhmu justru ditulis disetiap iklan rokok–saya tak tahu apakah ini simbol kepatuhan atau semacam olok terhadap sebuah regulasi. Pada sisi lain, Pertumbuhan pabrik rokok dan perokok berbanding lurus.

KPAI apalagi–bahkan terkesan hanya mencari sensasi, sebab ribuan anak-anak yang dieksploitasi di pinggir jalan, di mall. Bekerja pada jam-jam sekolah. Bahkan dipaksa sebagai buruh dan pekerja seks, atau ditempat-tempat paruh waktu dengan upah menimal justru luput dari perhatian.

Saya bukan perokok tapi tak pernah menganggap merokok itu haram–jadi tak perlu repot menghakimi. Ini hanya soal kebiasaan dan persepsi yang harus diluruskan–bukan di hilangkan apalagi ditiadakan.

Kita diajarkan untuk kompromi apalagi terhadap keputusan atau fatwa yang berasal dari ijtihad. Bukankah fatwa hanya berlaku terhadap komunitas yang meminta fatwa. Ironisnya fatwa haram rokok tidak dibarengi dengan ikhtiar untuk melawan. Jadilah fatwa hanya semacam ‘macan kertas’.

^^^
Termasuk kompromi antara Pemerintah, KPAI dan PB Jarum. Mencari model yang realistis. Anak-anak terhindar dari eksploitasi, prestasi bulu tangkis tidak terganggu dan perusahaan rokok Jarum dapat untung.

*Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here