Komunitas Padhang Makhsyar #50: Semoga Bukan Kita Sendiri Penista Syariat Islam

0
2147
Foto patung diambil dari esculapedia.com

KLIKMU.CO Kita menistakan Allah dan rasul-Nya dengan cara menista berhala sesembahan mereka, kitab suci mereka, pemimpin diantara mereka kemudian mereka membalas yang sama. Naudzubillah

“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau batas dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.

Lalu Allah menurunkan ayat: ‘

‘Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (al-An’aam:108)

Padahal orang-orang musyrik adalah kafir, namun Allah swt melarang nabi saw mencela berhala-berhala mereka, sebab dikawatirkan mereka membalas menghina Allah swt dan rasul-Nya.

Kaum muslimin, karena merasa benar berada di jalan petunjuk, kemudian mencela siapapun yang kebetulan masih berkubang kebatilan dan kemunkaran, tak terasa atas nama nahy munkar kaum mu’minin mencela dan merendahkan sesembahan, berhala, kitab suci bahkan ajaran mereka kemudian mereka membalas menghina Allah taala dan rasul-Nya dengan melampaui batas.

Pada kejadian yang serupa kita juga diharamkan menghina orangtua tua dengan cara menghina orang tua orang lain:

“Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi saw menjawab : ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya.

Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”. (Bukhari&Muslim)

Menghina ibu sendiri dengan cara menghina Ibu orang lain.

Menghina bapak sendiri dengan cara menghina bapaknya orang lain. Menghina Allah dengan cara menghina sesembahan agama lain.

Menghina kitab suci Al Quran dengan cara menghina kitab suci agama lain. Menghina ulama sendiri dengan cara menghina pendeta, pastur, rahib dan bantey. Begitulah hukum causalitas berlaku.

Bapak Basuki Cahaya Purnama alias Ahok dan Ibu Sukmawati Soekarno Putri (semoga kedua beliau dimaafkan Allah taala dan mendapat hidayah) adalah jawaban mudah.

Keduanya kasat mata dianggap sebagai penista agama. Merendahkan syariat Islam dengan cara tak patut.

Lantas apakah keduanya ujug-ujug menghina dengan perkataan tak patutnya atau ada sesuatu yang menyebabkan dia mengumbar dan membalas pernyataan penistaan itu.

Dan saya kawatir kebanyakan para penista agama itu hanya membalas menghina, karena Tuhan nya kerap dihina, kitab sucinya dianggap palsu, ajarannya disesatkan dan mereka jengah disebut kafer setiap saat, lantas mereka membalas dengan perkataan yang sama.

Penghinaan dan penistaan serupa.

Bapak Ahok dan ibu Sukma barangkali hanya dua dari puluhan, ratusan bahkan ribuan penista lain yang tak sempat disebut karena membalas penistaan yang sama.

Jangan-jangan saya sendiri telah khilaf menista trinitas, Injil dan Yesus lantas mereka membalas menista Allah, Muhammad dan Alquran. Dan seterusnya.

Dan ternyaya penista agama itu adalah saya (kita) sendiri karena saya (kita) menista agama mereka, lantas mereka membalas menista agama kita.

Maka sampaikan kebenaran tanpa harus menghina agama lain yang berbeda. Agar kita tidak menjadi bagian dari penista agama sendiri. Wallahu alam.

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makshyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here