Komunitas Padhang Makhsyar #501: Ekspansi Kebun Sawit dan Penderitaan Massal

0
99
Foto diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Matinya tanggungjawab sosial. Tom Nichols menyebutnya kedunguan massal (ignorance). Merasa serba tahu. Karena kita sering tukar posisi. Seorang ulama tiba tiba berubah menjadi ktitikus film dan calo karcis bioskop–marbot sebuah masjid fasih bicara tentang utang luar negeri–siapa sangka Muldoko bernasehat bagai Habib saat ditanya tentang kebakaran hutan yang berakibat asap–lantas kita mau apa ?

^^
Jawaban Pak Muldoko tentang asap dan bencana sungguh menarik : “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala musibah datangnya dari Allah SWT dan diperuntukkan untuk hambaNya yang Ia percayai dengan porsiNya masing-masing. Musibah bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan dimana saja,” tulis @Dr_Moeldoko, Jumat (13/9/2019).

Bukan tanpa sebab, menurut pak Moeldoko musibah kabut asap yang menimpa sejumlah wilayah Pekanbaru, Riau adalah takdir Yang Maha Kuasa. “Dan yang perlu kita lakukan bukannya mengeluh tapi berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan berdoa meminta pertolongan Allah SWT. Termasuk musibah yang menimpa Pekanbaru, Riau yang sedang terjadi juga datangnya pun dari Allah SWT,” imbuhnya.

Moeldoko pun memanjatkan doa kepada para korban kabut asap supaya tetap diberi ketabahan dan keselamatan: “Al-Fatihah untuk seluruh saudara-saudara yang terkena musibah di sana, semoga selalu diberi ketabahan dan keselamatan. Aaamiin Ya Rabbal `Alaamiin,” pungkasnya.

^^^
Apa ada jawaban yang lebih baik dan benar selain jawaban itu–yang keluar dari lisan seorang pemimpin beriman dan dekat kepada Allah–semua mushibah datangnya dari Allah azza wajalla –kabut asap-hujan-gempa-tsunami-kelaparan-kekeringan–termasuk kematian–kita harus tabah dan iklas menjalani–Insya Allah akan menjadi ladang pahala–bukankah Nabi saw pernah bersabda bahwa apapun yang menimpa seorang mu’min baik kesusahan, tertusuk duri atau apapun yang menimpa, akan mengangkat dosa, kesalahannya akan dihapus derajatnya akan diangkat …

Kita tak perlu syu’udzan–apakah itu jawaban tulus dari seorang negarawan atau berkelit dan cuci tangan sambil melempar tanggungjawab kepada Tuhan. Bukankah agama dan Tuhan adalah tempat sembunyi paling aman. Mari kita renungi.

^^+
Apakah akar masalah selesai dan terurai ? Apakah Azab ada tanpa sebab. Allah taala tidak serta merta mendatangkan musibah atau menghukum sebuah kaum tanpa disertai alasan. Allah berfirman: ‘Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]

Lantas siapa paling patut dipersalahkan atas musibah ini–tak perlu mencari kambing hitam–ini soal kita bersama. Setiap pembangunan memang butuh kurban–termasuk ekspansi kebun sawit yang berakibat asap.

^^^
Berbagai dampak buruknya pun telah terjadi, antara lain, ribuan bayi terserang infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, jadwal penerbangan ditunda, hingga F1 di Singapura terancam batal karena kabut asap di Indonesia sampai ke Malaysia dan Singapura.

Bersyukur tinggal di Kota Batu–riuh tentang asap, banjir bandang, tsunami, kekeringan hingga gempa besar yang meluluh lantakkan perkampungan hanya dengar lewat berita. Kami masih ter-selamatkan entah sampai kapan .. ?
Kami hanya bisa berdoa –semoga api segera padam, asap segera pergi dan mengganti kesedihan dengan rahmat berlipat. Aamien
Wallahu taala A’lm

*Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here