Komunitas Padhang Makhsyar #506: Saya Berpolitik Karena Saya Ada

0
206
Ilustrasi diambil dari internet

KLIKMU.CO

Oleh; Kyai Nurbani Yusuf*

Politik itu perlu. Tapi tidak harus menyita waktu–GM
Politik tak butuh pembuktian tapi pembenaran.

Kemudian Rene Descartes bertutur pendek: Co Gito Ergosum–mungkin bisa diplesetkan, Saya berpolitik karena saya ada. Satu-satunya hal yang pasti di Indonesia adalah politik–kesejahteraan dan keadilan adalah absurd.

^^^
Apakah masih ada tersisa nilai luhur berpolitik–Asyahid Sayidina Hasan bin Ali ra, meski berhak atas tahta dibanding Mu’awiyah, tapi lebih memilih mengalah untuk menghindari pertumpahan darah sesama umat Islam yang lebih besar.

Abdurahman Wahid berkeras mencegah ratusan ribu pengikutnya ke Jakarta mengepung gedung parlemen untuk menghindari konflik horizontal yang lebih besar–Gus Dur mengingatkan bahwa jabatan tak harus direbutkan sampai mati–

Masih banyak orang baik di dunia politik yang katanya keruh dan jahat–tapi Mr Natsir cukup menjadi teladan meski kekuasaan orang-orang baik kerap tidak berlangsung lama. Pertanyaan besarnya adalah untuk apa menjadi orang baik jika tidak bisa berkuasa lebih lama.

^^^
Politik memang pilihan untuk berkuasa dan bukan pilihan menjadi orang baik–kata Berg Anderson yang gerah dengan orang-orang baik tapi tidak dipilih. Bisa saja ini adalah pernyataan skeptis dari orang-orang yang menginginkan perbaikan tapi tak kunjung hasil. Orang baik selalu kalah dan tak bisa berkuasa lama.

Parlemen di huni orang-orang tak baik. Reformasi dikorupsi. Mahasiswa mulai berteriak lantang. Di jalan-jalan dan gedung parlemen di beberapa kota–sebab gedung parlemen dikuasai wakil rakyat yang telah belok arah dan tak paham kebutuhan rakyat.

.^^^
Politik mengandung unsur antagonisme. Menyenangkan bagi mereka yang punya sifat agresif dan kompetitif. Tidak menyenangkan bagi yang ingin punya waktu tenang untuk menulis dan berkarya. Lantas kita ada di mana–bukan politisi tapi berpolitik.

Pilpres 2019 begitu sengit, dengan kampanye yang membelah masyarakat. Saya semula mengira kita lelah dan jera dengan permusuhan. Ternyata ada yang seperti ketagihan. Politisi adalah kumpulan pembuat konflik yang di dukung, kemudian dipilih untuk dijadikan panutan.

Tak ada manajemen dan kepemimpinan yang sempurna. Yang terbaik adalah kepemimpinan yang berani dan sanggup memperbaiki kekurangan dan kesalahannya. Dengan itu kita maju. Tapi ini hanya klise sebab politik tak ingin kita baik. Janji hidup sejahtera kemerataan dan keadilan hanyalah klise yang dihidupkan setiap kampanye.

^^^
Ada sebagian yang berpikir bahwa politik adalah tujuan–dengannya ia hidup dan bermain sesuai peran yang di inginkan. Pilpres itu lima tahun sekali, tapi ada yang berpikir Pilpres setiap hari. Guru berpikir layaknya Mendiknas. Tukang ojek berpikir keras tentang utang negara. Ulama membuat statement seperti politisi–sebaliknya politisi berfatwa lazimnya ulama .. hidup kita memang sedang terbalik-balik ..

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here