Komunitas Padhang Makhsyar #51: Pencela Suatu Dosa Akan Melakukan Sebelum Matinya

0
176

KLIKMU.CO Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505.

Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini lemah sedang Imam Ahmad menjelaskan bahwa hadits tsb Hasan sahih dan yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ‘Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut (sebelum matimu) : Madarijus Salikin, 1: 176.

Para pencela dosa akan melakukan dosa sebelum matinya, baik yang setara atau yang lainnya. Kesombongan telah membuatnya lalai dan merasa suci dan bersih. Padahal ia boleh saja melakukan dosa lainnya meski tidak serupa. Naudzubillah.

Hadits di atas bukan ber-makna larangan mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadits berbeda dengan mengingkari kemungkaran.

Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa.

Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi Ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri.

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain menjadi baik, sadar kemudian bertaubat.

Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan dan merasa diri lebih baik dari orang lain. Agar pelakunya kapok, dihujat kemudian dihukum syukur masuk bui. Kemudian soal telah selesai.

Tujuannya hanya membuat pelaku jera dan kapok. Tapi bukan bermaksud memberi nasehat agar pelakunya menjadi baik, ber-taubat dan berbuat bajik.

Allah ta’ala berfirman,

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (An Najm:32)

Dan sungguh diantara kita: apa ada yang sudah menasihati para penista agama itu atau malah sebaliknya, kita hanya sibuk mencela pada status-status kita, pada Khutbah, tausiyah dan pembicaraan kita di grup atau pikiran-pikiran kita.

Mungkin saatnya kita perlu kembali me-reviw, membacanya ulang sekali lagi agar kita kembali yakin apa yang sudah kita tuliskan atau kita share hasil dari copas.

Apakah kita termasuk yang menasihati pelaku khilaf atau seorang pencela yang gigih . .. ???? Wallahu a’lam

Semoga Allah taala menautkan dan melembutkan hati kita … aamiin

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makshyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here