Komunitas Padhang Makhsyar #510: De-Liberalisasi dan De-Salafi-sasi di Pergerakan Muhammadiyah?

0
263
Foto diambil dari Muhammadiyahlamongan.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Tradisi berpikir liberal dan puritan ada dalam diri Kyai Dahlan—

Dalam buku Muhammadiyah di Penghujung Abad 20, kumpulan makalah menjelang Muktamar Solo, ketika ditanya oleh salah seorang muridnya di STOVIA Soegardo Poerbakawatja (Konseptor dan perintis berbagai perguruan tinggi negeri: UGM, UI termasuk FKIP Muhammadiyah)–Kyai Dahlan membolehkan mengganti bacaan shalat ke dalam bahasa yang dimengerti–

Prof Malik Fadjar–Bawalah Muhammadiyah ke tempat terang jangan bawa ke tempat gelap dan lorong sempit–

*^^^*
Menyisir dua tradisi berpikir tajdid yang cenderung bebas-modern dan puritan yang cenderung tekstual-konservatif tidaklah sulit. Keduanya ada dan dipraktikkan sebagai sebuah paradigma berpikir yang hidup dan tumbuh di pergerakan Muhammadiyah yang digagas Kyai Dahlan–

Prof Yunahar Ilyas menyatakan bahwa salah satu manhaj Muhammadiyah tidak liberal dan tidak puritan. Meski sulit dirumuskan dalam bentuk konseptual praksis. Memberi ilustrasi bahwa dua paradigma itu memang tumbuh dan berkembang dan tidak harus saling menafikkan.

Tegasnya, Muhammadiyah memposisikan diri sebagai Islam moderat atau wasatiyah. Muhammadiyah tidak radikal dan tidak liberal. Muhammadiyah memegang teguh prinsip tawasut (tengah-tengah), tawazun, (seimbang) dan ta’adul (adil).

*^^^*
Tradisi Liberal:
Tradisi berpikir tajdid diawal pergerakan cukup signifikan berpengaruh terhadap ruh pemikiran Kyai Dahlan–
Praktik tajidid inilah yang memberi warna pergerakan pemikiran Muhammadiyah sebagai harakah dan federasi pemikiran modernis–Kyai Dahlan bahkan kerap menabrak tabu. Sering disebut kyai londo atau kyai kafer.

Jika liberal dimaknai sebagai cara berpikir bebas-modern maka Kyai Dahlan adalah orangnya–Model sekolah yang dikembangkan juga mirip sekolah Belanda–menulis dengan huruf Latin, mengajarkan ilmu ‘kafer’ (ilmu hitung-seni) menggunakan sistem klasikal, menterjemahkan Al Quran–adalah bukti bahwa Kyai Dahlan adalah seseorang pemberani menabrak kelaziman, hampir semua yang dilakukan Kyai Dahlan adalah tasyabbuh (menyerupai orang kafer) tak urung Carl Whiterington menyebutnya sebagai pragmatikus agama.

Abdurahman Wahid menyebut ‘kemenangan’ Muhammadiyah atas NU adalah kemenangan dialektik–yang awalnya dibantah atau dilawan kemudian ditiru atau dibenarkan–semua yang dilakukan Muhammadiyah sekarang dilakukan oleh NU.

*^^^*
Tradisi Puritan
Tidak hanya gagasan tajdidiyah atau modernisasi–Kyai Dahlan juga penganjur Puritanisme yang cerdas dan militan–jargon kembali kepada Al Quran dan as Sunah cukup memberi pengaruh–ruang gerak Kyai Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam cukup cerdik dan banyak mendapat simpati.

Perubahan arah kiblat adalah pikiran paling cemerlang kala itu meski kemudian banyak dilawan karena melawan tradisi–adat dan kemapanan para ulama saat itu.

Pun dengan pikiran Puritanisme yang digagas Syaikh Abduh dan muridnya Syaikh Rasyid Ridha dan kedekatan Kyai Dahlan dengan pikiran-pikiran majalah Al urwatul wutsqa menjadi bagian penting yang mempengaruhi pikiran pemurnian ajaran agama Islam–maka Kyai Dahlan juga seorang penganjur manhaj salaf. Al Islamu mahjubun bil muslimin–menjadi bagian penting dalam gerakan pemurnian (purifikasi) yang di idealkan.

*^^*
Mari kita bersepakat tentang ta’rif liberal dan puritan agar tak gampang membuat stigma liberal atau puritan pada setiap yang berbeda:
Ta’rif paling ekstrim tentang liberal dikemukakan oleh Judson membuat ciri-ciri liberalism keagamaan menjadi tujuh tapi yang utama ada enam: Pertama, banyak mengingkari firman Tuhan. Kedua, mengakui berbagai kesalahan di zamanya dan juga kebenaran. Tapi lebih banyak mengakui kesalahan. Ketiga, mengakui Tuhan hanya sebatas untuk kepentingan kemanusian, ketika ajaran Tuhan tidak dapat diterima maka akal manusia dimenangkan. Keempat, tidak ada yang mutlak dan pasti tentang Tuhan. Kelima, mempromosikan keraguan beragama yang tidak berarti. Keenam, mendukung keyakinan keagamaan dan prakteknya yang popular.

Puritan, lebih tepatnya Kaum Puritan dari Inggris pada abad ke-16 dan 17 adalah kumpulan sejumlah kelompok keagamaan yang memperjuangkan “kemurnian” doktrin dan tata cara peribadatan, begitu juga kesalehan perseorangan dan jemaat.

Ironisnya–mereka yang merasa paling Islam dan menyebut liberal ternyata juga menggunakan paradigma berpikir Barat-Kresten, sebab Islam tak mengenal liberal atau puritan. Dari tarif diatas maka tak ada satupun ulama ulama atau cendekiawan Muhammadiyah bisa disebut liberal karena tak memenuhi syarat seperti yang dikemukakan Judson.

*^^^*
Andai saja–Jika allahuyarham Muhammad Djazman al Kindy, Buya Safii Maarif, Prof Malik Fadjar, Prof Amien Abdullah yang dianggap merepresentasi pikiran-pikiran ‘liberal’ maka ketiganya telah berkontribusi besar terhadap Persyarikatan, bukan saja pada khasanah pemikiran dan intelektualitas ke Islaman dan kebangsaan, tapi juga sukses membangun suar. Djazman Al Kindi membangun UM Surakarta, Buya Syafi’i Maarif adalah aktor proyek besar Mu’alimn Jogja dan Suara Muhammadiyah sedang Prof Malik Fadjar adalah UMM itu sendiri. Stigma bahwa orang-orang yang dituding liberal membahayakan Persyarikatan tidak terbukti–bahkan sebaliknya mereka ikut berkontribusi besar bahkan sangat besar terhadap besarnya Pergerakan Muhammadiyah.

Jika Anda ingin mengklasifikasi Ustadz Yunahar Ilyas merepresentasi aliran Salafi di Muhammadiyah, anda keliru–sebab Prof Yun menolak Salafy dan tegas membuat garis demarkasi dengan Salafy di Persyarikatan. Apalagi memilah alumni timur-tengah dan barat sebagai indikator siapa liberal dan bukan–adalah naif sebab alumni Al Azhar pun masih dianggap liberal. Pikiran meracau.

Sebab pikiran-pikiran Salafi justru ada diluar perkumpulan–sebut saja Abdullah Jawaz, Abdullah Tuasikal, Khalid Basalamah dan lain-lain, mereka semua berada di luar Muhammadiyah dan tidak pernah mau disebut sebagai Muhammadiyah. Bahkan ketiganya berfatwa tegas : berorganisasi itu bid’ah. Lantas apa yang telah mereka lakukan dan sumbangkan untuk Persyarikatan ? Fatwa bid’ah berorganisasi sangat membahayakan Muhammadiyah.

*^^^*
Realitasnya orang Muhammadiyah yang dituding liberal tidak membahayakan malah sebaliknya berkontribusi positif terhadap Persyarikatan. Kemudian pertanyaan besarnya kontribusi apa yang diberikan ulama-ulama Salafi kepada Persyarikatan ? Wallahu a’lam

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here