Komunitas Padhang Makhsyar #518: Teroris adalah Orang Baik yang di Jahati

0
105
Foto Joker 2019 diambil dari Fimela.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Siapapun kita punya potensi menjadi teroris ketika teroris dimaknai sebagai perlawanan dari orang yang ditindas dan dijahati.
Teoris adalah orang baik yang dijahati—-jika stigma ini benar maka penusukan terhadap Menkopolkam menjadi lumrah.

^*
Tidak penting siapa pelakunya. Bersebut teroris atau pelawak. Bercadar atau telanjang. Pakai gamis atau jeans. Ini hanya soal teste melampiaskan marah atau karena kesal bertumpuk. Betapa rapuhnya sistem pengamanan, jika penusukan ini benar, dan ironis ketika yang diberi amanah menjaga negara tak mampu menjaga dirinya , dan jika hanya sebuah konspirasi untuk memangsa lawan politik—akan terlihat seperti dagelan picisan.

Menkopolkam bakan tujuan utama, tapi hanya sasaran antara—karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh kumpulan frustrasi dan putus asa melihat arogansi kekuasaan yang terus.

Frustrasi bisa membuat orang bertindak di luar nalar karena penguasa menampilkan kepongahan, arogansi dan kemewahan di depan penderitaan masal. Jangan pernah remehkan ketidak percayaan, meski bermula dari kawanan gembel. Banyak penguasa dan rezim jatuh karena pongah menganggap enteng. Nyatanya Menko Polkam yang menjaga keamanan negara justru oleng ditubruk pisau dapur seorang ibu. Ini pelecehan bagi seorang petinggi jendral kelas kakap.

^^^
Saya pernah menyumpah sir Thomas Hobbes, masih ingat ketika dia bilang dengan sinis, manusia adalah srigala bagi manusia lainnya’. Ini masih relevan bahkan dijaman modern yang katanya ada di puncak peradaban.

Manusia tetap saja sama. 50 ribu tahun lalu ketika masih di sebut jaman batu hingga hari ini di jaman setan kotak -gadget—saling memangsa. Baik sendiri atau berkelompok membuat kawanan.

Sigmund Freud salah seorang psikolog kontroversial pernah memilah bahwa manusia punya Id—sumber petaka dan kejahatan. Dalam diri manusia ada dorongan dominan berbuat layaknya binatang. Maka perlu super ego untuk mengawasi, mengontrol dan memberangus setiap keinginan jahat. Yang kemudian disebut Super ego. Yang diharap bisa menjinakkan Id. Berupa aturan, norma dan agama. Lantas muncul ego sebagai kompromi atas kedua sisi manusia yang berebut dominan.

^^^
Saya tak hendak bahas psikologi apakah sekarang kita sedang pada tahap sakit jiwa akut yang memproduksi akal buruk karena himpitan putus asa dan frustrasi kolektif atau sikap defens karena ada anggapan bahwa kita sedang berperang melawan musuh.

Rezim zalim, ketidak adilan, kecurangan, utang luar negeri, kooptasi China dan entah apalagi lagi, masih lekat dibenak rakyat sebagai musuh bersama—public-enemy. Tak mudah hilang karena penguasa tak pandai menjawab keraguan yang bermula dari keingintauan. Mencari jawaban sendiri—dari informasi sepotong-sepotong.

Meski berada pada gelombang informasi modern—nyatanya tradisi literasinya rendah. Pendidikan tak juga berhasil menumbuhkan masyarakat berpengertian—knowledge sociaty—lierasi sehat (health literacy) hanya klise—justru kedunguan massal (ignorance) seperti yang disebut Tom Nichols ada di mana-mana. Kepakaran telah mati digantikan prasangka dan hoax.

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here