Komunitas Padhang Makhsyar #522: DAS dan Glorifikasi Effect

0
186
Foto Dahnil Anzar Simanjutak diambil dari GWA

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

‎أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما

^^^^
Seakan Tuhan mengirim nya dari langit—dan kita menerima nya dengan penuh suka cita, deret sanjung—semua dipujikan—harapan digantungkan.

Dahnil mengisi ruang kosong yang tak mampu di isi para ulama dan pimpinan yang lain—ia punya segalanya: takbirnya kenceng—genggam kepalan tangannya kuat dan yang terpenting berani malawan rezim yang selama ini ditabukan. Pendek kata, Dahnil adalah mimpi-mimpi yang belum ujud. Simbol perlawanan dan segala ghirah.

Digadang-gadang sebagai Simbol pemimpin masa depan—Dahnil
bisa membangkitkan ghirah pemuda yang sebelumnya mati suri—dibawahnya KOKAM pun giat berlatih. Kemana-mana di elu-elukan sebagai idola dan tokoh masa depan. Takbir bergema riuh bersama peluh harapan berubah lebih baik.

^^^
Glorifikasi, adalah pemujaan terhadap seseorang di era modern—sebuah istilah yang agak sopan sedikit, sebab jatuhnya nya sama: kultus. Ada beberapa sebab kenapa seseorang melakukan glorifkasi. Tapi sayang kita marah saat dibilang kultus. Padahal ya kultus.

Para psikolog menarasikan glorifikasi sebagai generasi yang berbeda dari pendahulunya, menikmati fasilitas dengan proses panjang, beradaptasi dalam keterbatasan sampai kemudian masuk ke era abundance (jaman serba ada). Sebaliknya, glorifikasi langsung masuk dalam pusaran abundance tadi tanpa lewati masa keterbatasan.

Namun boleh jadi, kemudahan itu tak selaras dengan bangunan sikap mentalnya. Sikap mental ini adalah proses yang embedded atau menubuh dalam dirinya. Sebuah kondisi batin seseorang bagaimana ia merespons, meyakini, menilai, menghayati suatu hal.

Mendadak tenar-mendadak populair—mendadak dipuja menjadi masalah dalam dirinya—semua serba instan karena diperoleh dengan mudah. Itu masalahnya. Maka ia akan memburu tenar yang lain dengan tidak sabaran.

Bahkan Ironisnya para pemuja Dahnil pun masih belum nyadar dan terus mencari narasi pembenar ketika pujaanya sudah ‘berenang di dalam kolam”,

^^^
Glorifikasi—Sebenarnya adalah kecelakaan berpikir bagi awam karena seseorang akan memuja dan mencintainya tanpa batas—

Efek glorifikasi terhadap seseorang, pada titik tertentu akan meninggalkan luka…Dahnil begitu diagung agungkan sebagai tokoh muda Muhammadiyah yang idealis, integritas, pemberani dan banyak lainnya. Padahal Kita sudah diingatkan kok, “…cintailah seseorang itu sekedarnya, karena suatu saat kita membencinya, dan bencilah seseorang itu sekedarnya, karena suatu saat akan dicintainya…”

Khalifah Umar Ibnul Khattab pernah mencopot pedang Allah Khalid bin Walid di puncak karier ketika gejala glorifikasi di kalangan para prajuritnya mulai mengemuka. Sangkaan bahwa setiap pernah bakal dimenangkan bila ada Khalid harus diubah. Khalid yang gagah berani itu dipulangkan dan mati di kasur.

Keberanian Khalifah Umar Ibnul Khattab patut dipujikan semata menjaga rasionalitas umat Islam yang demam dengan Khalid bin Walid. Meski awalnya banyak mendapat perlawanan dari pengikut Khalid yang setia dan memujanya.

^^^
“Sayangilah orang yang kau sayangi (contoh : sahabatmu-pen) sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi”.

Tidak ada yang keliru terhadap apapun yang dilakukan Dahnil— mau masuk dan berbuat sesuai pilihan politiknya. Mungkin kita saja yang belum juga siuman padahal matahari sudah tinggi .. ..

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here