Komunitas Padhang Makhsyar #53: Perang Peradaban: Islam Musuh Bersama

0
86
Ilustrasi radar dunia diambil dari Youtube

KLIKMU.CO Istilah ‘konflik peradaban’ diperkenalkan Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996).

Menurut Huntington, dengan berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme, wilayah konflik meluas melewati fase Barat, dan yang mewarnainya adalah hubungan antara peradaban Barat dan non-Barat serta antar-peradaban non-Barat itu sendiri.

Huntington mengelompokkan negara-negara bukan atas dasar sistem politik ekonomi, tetapi lebih berdasarkan budaya dan peradaban.

Ia mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, yaitu, peradaban Barat, Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, Islam, dan Kristen Ortodoks.

Benturan yang paling keras – menurut Huntington – akan terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dengan kebudayaan Islam.

Tesis tersebut secara tidak langsung memperkuat asumsi sebagian besar ilmuwan Barat yang melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresi dan ancaman).

Pendek kata, bagaimana Barat menciptakan stereotipe-stereotipe simplistis yang menunjukkan wajah the rage of Islam.

Setidaknya ada 9 kelompok peradaban agama dan budaya yang bakal bertarung berebut hegemoni.

Adu kuat dan strategi agar tetap kuat bertahan. Peradaban inilah yang tetap eksis usai perang dingin antara barat dan komunis. Komunis ambruk setelah Gorbachev mengenalkan glasnots dan prestroika.

Siapa sangka dua kata itu (glasnots dan prestroika) menjadi sebab negara super kuat Rusia bertumbangan.

Benturan paling keras justru ketika 8 peradaban itu melawan Islam. Bagi semua peradaban, Islam adalah ancaman paling besar sebab sifatnya yang agresif dan hegemonik.

Berbeda dengan peradaban lain yang lebih adaptif dan menerima ruang kompromi Islam justru sebaliknya. Karakter melawan dan merubah itu yang kemudian membuat semua peradaban bersatu melawan Islam baik sebagai ideologi, identitas atau budaya.

Sifat dasar peradaban Islam adalah (agression and hostility) yang disimbolkan dengan jihad. Berkonotasi merah-darah dan perang adalah stigma yang kuat terbangun di barat dan timur selain Islam.

Kekuatan jihad sering di salah pahami barat dan lainnya. Itu pula yang melahirkan stigma bahwa Islam adalah agresor dan ancaman serius bagi kemanusiaan.

Wajah Islam di Indonesia kurang lebih sama. Agresor dan mengancam. Terlebih gerakan 212 yang meski dilakukan secara damai tapi tak cukup untuk merubah image bahwa itu adalah ancaman yang harus dilawan. Saya tidak tahu, dengan wajah ini menguntungkan atau sebaliknya.

Yang saya tahu Islam dengan watak agressif justru banyak dilawan oleh kalangan Islam sendiri. Orang boleh mengkaim bahwa kemenangan pilgub DKI sebagai simbol kemenangan Islam atas orang kafer yang di dorong oleh gerakan 212, tapi jangan pernah lupa bahwa pasangan Anis-Sandi adalah dari kalangan Islam moderat bahkan nyerempet liberal.

Latar belakang Anis sebagai rektor universitas paramadina besutan Dr Nurcholis Majid sudah mencukupi.

Berbagai konflik politik dan sosial yang kita alami akhir akhir ini sesungguhnya bersumber pada konflik agama dan budaya sebagai identitas. Dan ini tentu saja sangat mencemaskan mengingat kita adalah negara Kepulauan, beragam agama dan ras yang rentan berpecahan.

Ketika Islam berubah menjadi idelogi-politik memang menyeramkan itulah yang dicemaskan Buya Syafii Maarif dalam berbagai tulisan dan tausiyahnya, Buya berpesan: “Jangan memperalat Tuhan untuk tujuan politik praktis’. Pesan Buya yang sangat kuat daya resonansinya untuk menghindari perang antara ideologi agama.

Untuk mengulang sukses gerakan 212 melawan Ahok bakal sulit diulang sebab umat Islam sudah semakin paham politisasi agama untuk tujuan politik praktis itu akan merugikan umat Islam sendiri.

Pada kenyataannya justru pesan Buya Syafii ini yang lebih kuat terasa dikalangan para cendekiawan-pemikir dan pemimpin-politisi. Tumbuhnya kesadaran untuk tidak menjadikan agama sebagai ideologi dan identitas sangat penting.

Bisa dibayangkan kalau Kresten, Hindhu, Budha, Kejawen juga berubah menjadi ideologi, maka perang antar agama (peradaban) sulit dihindari.

Dari situlah kita baru menyadari bahwa kekuatan pikir terbukti bisa melampaui gerakan turun jalan meski jutaan hadir dikerahkan. Dan Buya Syafi’i Maarif menyadari sepenuhnya dari guru agungnya Kyai Ahmad Dahlan suwargi. Wallahu a’lam

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here