Komunitas Padhang Makhsyar #54: Abangan Menjadi Presiden

0
121
Foto anak anak zaman doloe ngaji diambil dari bumijowo.blogspot.com

KLIKMU.CO Mungkin perlu ada test, siapa lebih Islam: Jokowi atau Prabowo. Agar kita tidak menyesal di belakang hari. Setidaknya untuk mengetahui siapa diantara keduanya lebih fasih baca Fatihah, syukur ada hafalan juz ‘amma.

Dan siapa diantara keduanya paling duluan datang ke masjid saat Subuhan. Agar kita tak keliru menggolongkan keduanya, apakah muslim atau bukan.

Dan memastikan apakah diantara keduanya ada mengandung darah PKI atau tidak.

Saya kawatir siapapun pemenangnya akan diperlakukan seperti Jokowi. Politik balas dendam. Dipersalahkan, direndahkan dan dibully ramai. Ketika melakukan kebaikan dibilang pencitraan. Dan ketika tidak melakukan kebaikan dibilang plonga plongo.

Pilihan Presiden 5 tahunan terasa begitu lama, karena banyak yang kebelet segera berkuasa menggantikan.

Mungkin Pilpres setahun sekali dapat segera menghilangkan syahwat berkuasa.

Meski Jokowi naik haji puluhan kali, pakai kopyah dan sarung, berjalan menuju masjid istana setiap pagi subuh, tetap saja dibilang abangan, karena dianggap bukan dari kalangan “kita”.

Lantas siapa Jokowi, dan atau orang yang semisal, Soekarno, Soeharto, Habibie, Megawati, SBY, Bahkan KH Abdurahman Wahid sekalipun tetap dianggap bukan sebagai representasi umat Islam.

Konsep tentang santri, priyayi dan abangan sepertinya sudah melekat dalam pikiran kita, tidak tahu kenapa, tapi pikiran dikotomis ini menjadi alat untuk mendeteksi siapa kalian dan darimana berasal.

Masih belum bisa memahami kenapa Jokowi termasuk Gus Dur dianggap bukan representasi umat Islam Indonesia bahkan beberapa hal dilawan dan berusaha dijatuhkan dengan alasan agama dan ras, sungguh tidak mengerti.

Berbagai upaya dilakukan untuk merubuhkan dengan berbagai cara termasuk menyebarkan berita hoax.

Bagi saya, tindakan ini sangat keji dan zalim. Karena justru menjauh dari akhlakul karimah yang harusnya ditegakkan.

Belum jelas juga indikator apa yang digunakan untuk mengukur ke-Islaman seseorang, dengan gamiskah, jenggotkah, atau darimana dia mendapat ilmu, pesantren atau universitas, atau dari keturunan.

Masih belum cukup kemudian kita juga terkotak lagi, ada Islam liberal, Islam nusantara, Islam moderat, Islam garis lurus atau garis lucu.

bahkan tidak jarang ada beberapa yang ge’er dengan menabalkan dirinya sebagai penegak syariat, dan mengaku pewaris nabi dengan segala kewenangan yang disandang.

Klaim-klaim ini membuat Islam semakin menyempit, anehnya kita bangga menjadi yang sedikit dan mencari pembenar dalam ayat dan hadits untuk menyatakan bahwa yang sedikit itulah yang benar dan dijatah surga, bagaimana kemudian ketika aliran-aliran yang sedikit pengikut itu merasa benar semua .. lantas ada berapa kelompok “sedikit” yang merasa benar.

Ada berapa orang yang kita perlakukan seperti Jokowi, di Jakarta bahkan di kota kita masing-masing, mereka diperlakukan layaknya bukan muslim meski mereka bersyahadat, melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan beramal saleh sesuai kemampuan, lantas kita siapa berhak dan berwenang mengukur keimanan seseorang.

Kita terjebak pada politik aliran dan simbol, kita punya definisi sendiri tentang: kita dan mereka.

Shalat, puasa dan haji saja tak cukup untuk menjadi bagian dari ‘kita’. Sebab ‘kita’ adalah sesuatu yang amat personal dan leterljik, dan terus menyempit.

Hanya kebetulan mereka tidak berasal dari halaqah yang kita hadiri lantas mereka tidak berhak disebut muslim, beginikah cara pandang kita .. lalu siapakah yang berhak menyandang muslim itu?.

Bukankah Rasulullah saw tegas menyatakan bahwa siapapun yang sudah bersyahadat maka haram darahnya, haram hartanya dan haram direndahkan martabatnya .. sedangkan soal hati adalah urusan Allah taala”.

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat. Komunitas Padang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here