Komunitas Padhang Makhsyar #55: Ramzi dan Hizbu-Allah

0
110
Visualisasi padang pasir yang penuh fatamorgana diambil dari Fighter of Islam

KLIKMU.CO Ossama, salah seorang emir ISIS cabang Paris. Bergerak dibawah tanah. Muda dan cerdas tapi tak pernah lulus sekolah. Tekanan keluarga. Hidup berat dan tak kerasan tinggal di rumah karena frustrasi. Sendirian tak punya teman. Pernah enam bulan dibui. Kecanduan narkoba.

Beberapa kali mencoba bunuh diri. Harapan hidup menipis. Dengan pengalaman hidup seperti itu bisa ditebak pemuda seperti apa dia.

Mereka sebut diri dan kelompoknya ‘Tentara Allah’. Syuhada tidak merasakan sakit, demikian Ossama emir ISIS di Prancis berujar pada dirinya dan teman satu barisan. Mati dijemput surga. Memimpin sekelompok anak muda yang tidak punya rasa takut. Juga tak punya masa depan. Surga menjadi tujuan. Sebuah cara ringkas masuk surga. Banyak yang tertarik.

Ramzi jurnalis muslim itu menyusup dan melihat dari dalam bagaimana cara hidup kelompok ISIS di Paris. Yang menyebut dirinya Hizbullah. Selama enam bulan lebih menyamar. Tak ada Islam disana, katanya datar. Hanya raut getir kumpulan pemuda tanpa rasa takut. Frustrasi dan kalah. Inginnya cepat mati dengan bom dipasang di tubuh. Syahid, dengan senyum tipis dikulum.

Islam hanya bayangan. Sebatas imajinasi dari kumpulan manusia paruh baya. Kering dan jauh dari pergaulan. Hanya kebencian terhadap yang dianggap musuh Allah.

Ditempat itu hanya etape menunggu hidup abadi. Bayangan surga dan bidadari di kelopak mata. Membunuh dengan cara bunuh diri atau ditembak mati mesiu polisi. Keduanya sama. Mereka mendefinisikan musuh Allah dengan indikasi yang mereka definisikan sendiri.

Seperti halnya Abdurrahman ibnu Muljam Al Maqri. Hafidz Quran bersuara emas. Dikenal zuhud, saleh dan wara’. Seorang hafidz yang kerap mendapat tugas penting semasa khalifah Umar.

Saat melakukan aksinya Ibnu Muljam masih sempat membaca surah al Baqarah 207 sesaat setelah menikam khalifah Ali dari belakang: “Dan diantara umatnya ada yang mengurbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.

Sebuah pertunjukan yang tak bisa dinalar. Kebenaran diklaim hanya milik segerombolan yang merasa paling benar. Menjadi Hizbu-Allah untuk membunuhi saudara seiman yang tidak sepandangan. Bahkan ayat itu juga dijadikan hujjah tentang bolehnya melakukan tindakan bunuh diri dengan pasang bom ditubuh.

Ali Karamallahu Wajh salah seorang yang dijamin masuk surga tanpa dihisab itu dituduh khianat dan penipu, dikafirkan sebelum dibunuh. Dicap munafik karena berdamai dengan Muawiyah. Dianggap lembek dan invalid karena tak mampu tegakkan syariat seperti yang mereka mau.

Menahbiskan diri dan kelompoknya sebagai Tentara Allah (Hizbu-Allah) Algojo bagi teman seiman. Atau siapapun yang dianggap musuh Allah. Syahid mengalami reduksi makna. Berada ditangan orang frustrasi.

Al Quran dijadikan pembenar. Mati tanpa rasa sakit. Mengurbankan diri. Untuk tujuan absurd. “Kita harus berperang melawan musuh Islam saat mereka sedang berbaris, makan, tidur atau berjalan kaki”, perintahnya pada dua puluh-an pemuda bawahannya. Ossama nama emir itu. Sambil membayangkan dirinya tersenyum saat polisi menembus mesiu di jantungnya.

Ossama dan puluhan pemuda lainnya yang terjebak. Pada perasaan benar sendiri. Menemukan tempat dan pembenar. Mencari jalan pintas ke surga dengan membunuhi teman seiman.

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here