Komunitas Padhang Makhsyar #56: Dakwah Purifikasi Masih Perlukah?

0
157
Foto ledakan bumi diambil dari Fitriyulianidyfi.blogspot

KLIKMU.CO Seorang ulama menelaah berbagai kitab, mengumpulkan berbagai dalil dan hujjah hanya untuk satu pernyataan: bid’ah kepada tahlilan yang biasa dilakukan pada setiap jemuah legi, yang dibalas dengan pernyataan sama. Saling menyerang dan bertahan untuk satu amalan yang diperselisihkan.

Silang kata untuk setiap ikhtilaf : usholi, qunut dalam shalat shubuh, tabarruk saat ziarah qubur , manaqib, diba’, sebutan sayyidina dalam shalat, haramnya tasawwuf, hadiah pahala, jahr atau sirr bacaan basmalah dalam shalat, ikhtilafiah demikian biasa disebut tak ada habisnya.

Ratusan, bahkan puluhan ribu ikhtilaf tentang berbagai soal berserak. Baik dalam bidang kalam, fiqh, tafsir, tasawuf dan cabang-cabang ilmu pokok lainnya, siapa bisa jamin akan ada solusi hidup tanpa ikhtilaf. Siapa bisa jamin ada situasi dimana tak ada selisih.

Bahkan ikhtilaf sudah ada sejak Nabi Adam as turun di bumi. Qabil dan Habil berselisih tentang Ikrimah dan jenis kurban untuk mendapatkan.

Para sahabat juga kerap berikhtilaf dan Nabi saw hadir sebagai solusi. Isra’ dan mi’radz salah satunya, hanya Abu Bakar as Sidiq yang langsung membenarkan sementara yang lain sempat meragukan.

Ikhtilaf tentang shalat qashar antara Abu Bakar ra dan Umar Ibnul Khattab ra dalam suatu perjalanan. Ikhtilaf antara Hudzaifah bin Yaman ra dengan Sayyidah Aisyah ra tentang tata cara buang air kecil Nabi saw. Ikhtilaf Abdullah Ibnu Umar ra tentang dua raka’at dhuha, ikhtilaf tentang mandi junub pada puasa ramadhan atau dua rakaat ba’da Ashar antara Abu Dzar ra dan Ummu Salamah ra dan masih banyak lagi.

Yang paling menarik adalah ikhtilaf dalam politik atau siasah.

Ikhktilaf tentang siapa paling berhak menggantikan Nabi saw sebagai khalifah merebak hingga saat ini.

Bahkan Sayidina Ali harus syahid di tangan Abdurahman Ibnu Muljam al Maqri’ karena ikhtilaf melakukan perjanjian dengan Mu’awiyah setelah perang yang melelahkan. Yang kemudian melahirkan berbagai aliran dan manhaj justru bermula dari perbedaan pandangan politik.

Begitu pula ikhtilaf tentang kalam, terus meruncing. Jabbariyah, Qadariyah dan Khawarij kuat bergelora. Bahkan mereka saling mengkafirkan, beberapa harus saling membunuh.

Abu Hasan Al As’ary, Al Maturydy berikhtilaf dengan Jaham bin Shafwan dan Washil bin Atha’. Dalam tasawuf ikhtilaf antara Al Halajj dan ulama ulama fiqh dan kalam terus mengemuka tak terbendung.

Syiah juga menjadi bagian paling menarik. Banyak mendapatkan pengikut dan eksis hingga hari ini. Iran adalah representasi Syiah klasik.

Ada banyak ikhtilaf antara Syiah dan Sunni menyangkut posisi khilafah Al Minhaj an Nubuwah. Termasuk pembunuhan dua cucu baginda Nabi saw Hasan dan Husein di Karbala.

Ikhtilaf terus berkembang semakin matang setelah ber-interaksi dengan berbagai kepentingan. Sunni dan Syiah bagai minyak dan air selalu bertengkar dan bermusuhan meski berbagai upaya pendekatan dilakukan. Hasilnya : permusuhan semakin tajam.

Soal besarnya adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan itu. Merawat ikhtilaf dengan dada lapang dan akal sehat. Bukankah ikhtilafiyah itu sunatullah yang tak perlu diingkari, ikhitilaf ada sebagai bagian dari harmoni semesta agar saling menggenapi.

Klise memang, tapi saya kira tak ada penjelasan selainnya bahwa kita memang dijadikan berbeda dalam banyak hal. Termasuk agama, manhaj, ras, bahasa untuk saling mengenal dan berlomba dalam kebaikan. Hanya Allah tabaraka wataala yang berhak memutus apa yang kita perselisihkan.

Lantas untuk apa merawat semangat kebencian jika ikhtilaf adalah rahmat. Atas nama putifikasi perdebatan berawal. Dan tak pernah ada dalam sejarah kalah berdebat kemudian menjadi pengikut setia, sebaliknya malah kian mengeras.

Bukannya tak setuju berdakwah dengan semangat puritan oleh sebagian da’i dan ulama dengan alasan kembali kepada Al Quran dan as sunah. Tapi jika dilakukan dengan cara ofensif, perbedaan justru kian melebar karena dilakukan dengan semangat menang dan kalah.

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here