Komunitas Padhang Makhsyar #58: Perjanjian Batu Tulis: Prabowo Menagih janji

0
193
Foto dua patung diambilkan dari Wallhere.com

KLIKMU.CO “Saudara Jokowi ini adalah salah satu dari 25 wali kota terbaik di dunia, saudara-saudara .. dan Basuki adalah wali kota terbaik di Indonesia yang tak bisa di sogok .. karena itu kita harus menjadikannya gubernur, saudara-saudara,  pilihan kita adalah antara maling dan yang tidak maling, antara akal akalan dan jalan lurus dan bersih” ujar Prabowo dalam pidatonya yang riuh di suatu kampanye.

Lalu kongsi politik antara ‘Hizbullah dan hizbus-syaithan’ pun pecah karena kepentingan dan konstelasi politik berubah ditengah.

Terminologi Hizbullah dan hizbusyaithan, antara daerah satu dan kota lain bisa berbeda, di satu tempat bisa bersekutu, sementara di kota lainnya bermusuhan. Yang awet hanyalah kepentingannya.

Tak ada yang bisa jamin persekutuan politik bisa abadi sebab politik adalah soal kepentingan. Dan itu wajar. Dari sinilah sumber konflik itu berawal dan beranak pinak.

Dua orang bersepakat untuk saling mendukung bahu membahu untuk memenangi pemilihan menjadi orang nomor satu di negeri ini, meski kemudian semua rencana berantakan dan harapan patah.

Pasangan Capres ini keok, SBY melenggang di periode dua. Meski kemudian muncul berbagai isu tentang kecurangan dan mark up suara yang tak pernah bisa dibuktikan.

Perjanjian Batu Tulis sebagaimana isi kesepakatan adalah kesepakatan bersama antara PDIP dan Partai Gerindra. Untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam Pilpres 2009.

Mega menjadi capres dan Prabowo rela menjadi nomor dua dengan tambahan di klausul terakhir Megawati akan mendukung Prabowo menjadi capres pada Pilpres 2014.

Ironisnya pada Pilpres 2014 PDIP malah menunjuk Jokowi sebagai capres dan tidak mendukung Prabowo. Ini yang kemudian menjadikan Prabowo dan timnya naik pitam.

Prabowo dengan segala kemampuan telah mengerahkan tenaga dan pikiran termasuk memenangkan pasangan Jokowi dan Ahok pada pilgub DKI. Dengan harapan keduanya menjadi mesin politik untuk memenangi Pilpres.

Tapi apa balasannya ? Belum genap dua tahun menjadi gubernur DKI, Jokowi malah menerima penunjukan dirinya sebagai petugas partai untuk mengikuti Pilpres yang secara tidak di duga malah dimenangkannya.

Jokowi menjadi Brutus bagi Prabowo. Inilah awal seteru itu.

Dan kita semua larut dalam soal konflik pribadi dua pemimpin yang tertahan ambisinya. Sebagian kita terjebak dalam konflik tak berkesudahan. Dan menyeret simbol simbol agama untuk kepentingan politik praktis.

Akibatnya jelas: diantara kita saling amuk karena klaim berebut menjadi paling Hizbullah.

Manusiawi jika Prabowo kecewa dan marah. Prabowo merasa di khianati dan itu menyakitkan. Jokowi juga tak salah, politik, bukan deret hitung satu tambah satu ada dua.

Janji politik tak bisa di meja hijaukan. Politik juga bukan kesepakatan di atas meterai.. tapi soal momen dan otak cerdas memanfaatkan kesempatan. Dan Jokowi ada diantaranya.

Andai Pak Amien Rais mau dan bersedia mengambil dua kesempatan: menjadi Ketua Komite Reformasi dan dukungan mayoritas partai sebagai capres pada pungut suara di MPR, menjadi orang nomor satu di Negri ini pasti menarik dan bisa mengawal semangat reformasi agar tak belok arah, tapi beliau lebih memilih jalan demokrasi sebagai pertaruhan politik Pilpres langsung yang tak pernah berpihak kepadanya.

Pak Amien tidak mewarisi darah Raden Wijaya, atau Panembahan Jinbun apalagi Abu Bakar as Sidiq yang piawai pidato dan membuka jalan baiat sebagai khalifah.

Nyatanya pak Amien bukan seorang politisi tulen. Beliau seorang ilmuwan politik yang sedang bereksperimen.

Dan Prabowo calon Presiden itu adalah seorang suami yang diputus dan tentara idealis yang kerap disakiti. Sering kalah bertarung meski sakti.

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here