Komunitas Padhang Makhsyar #61: Wong Jowo Kari Separo: Wong Chino Kari Sak Jodoh

0
171
Foto peta invasi nazi diambil dari memory-Wikia.com

KLIKMU.CO Apa ada korelasi antara GHOST FLEET yang ditulis Dr. PW Singer Direktur Pusat Analisa dan Keamanan di Broklyn Institut dengan buku Janggan Jaya Baya yang ditulis oleh Maharaja Jayabhaya.

Raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Yang bergelar lengkap Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Seorang mu’alaf yang misterius. Perang Puputan ramal Jaya Baya dan Self Destruction (ciber security dan ciber war) menurut istilah PW Singer.

Perang puputan. Tiji Tibeh. Mati siji-mati kabeh. (Mati satu mati semua). Konon Prabu Jaya Baya futurolog penulis buku masyhur berjudul Janggan Jaya Baya yang menjadi mu’alaf pernah memprediksi bahwa akan ada suatu saat ketika pesisir Jawa dan nusantara dikuasai ras mata sipit, hidung pesek, berkulit kuning. Konon pula mereka bakal menguasai tanah perdikan, sumber air, hutan dan lahan-lahan strategis lainnya.

Untuk beberapa lama mereka berkuasa. Bahkan menjadi penguasa tanah perdikan. Mereka tidak hanya menguasai fisik tapi juga balatentara dan jumlah penduduk.

Dikatakan bahwa saat itu jumlah penduduk Jawa dan China berimbang. Adu mulut dan konflik kecil-kecil dimulai. Kemudian terus membesar. Masuk pada wilayah politik yang sebelumnya mereka tak ikut.

Rezim Soeharto hanya membolehkan Tionghwa bermain pada wilayah ekonomi tapi tidak pada wilayah politik, mungkin ada benarnya. Tapi tidak berlaku untuk saat sekarang. Tionghwa sudah menguasai semua. Termasuk ranah politik yang dulu ditabukan, mereka memang tak harus menjadi Presiden atau kapala daerah tapi dengan kekuatan uang dan modal mereka bisa melakukan apapun termasuk mempengaruhi kebijakan yang bakal diambil.

Satu lagi. Tionghwa akan kuasai bahkan merebut daerah perdikan yang dekat dengan hajad hidup orang banyak. Sumber air, pesisir pantai, hutan, tambang, media informasi, jalan darat-laut dan bahan pokok. Cara ampuh menaklukkan suatu bangsa tanpa gaduh. Sesuatu yang harusnya dikuasai negara kini berusaha mereka kuasai dengan segala cara. Inilah invasi ala China.

Ada beberapa tahapan perang puputan yang bakal dipersiapkan menurut para analis intelegen:

Pertama: Low Intencity Operation. Menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Perang isu dan hoax. Semacam survey agar kohesi masyarakat merenggang. Saling fitnah. Menebar kebencian dan permusuhan. Umat Islam jadi target utama. Lebih karena umat Islam gampang emosi dan banyak friksi. Operasi sosial budaya dan menguasai ekonomi. Operasi hacking saling menjatuhkan antar elite politik, ulama dan kelompok generik masyarakat.

Kedua; Coup d’taad or Revolution. Setelah kondisi yang mereka inginkan tercipta lantas mereka tinggal pilih: menyerang dengan kudeta atau revolusi dengan mengerahkan massa rakyat. Keduanya dipilih berdasar kondisi yang mungkin.

Ketiga : Invassion. Bila kudeta dan revolusi tak juga bisa maka pilihan ketiga adalah invasi. Mereka akan memulai serangan ke sektor energi dan Finansial Indonesia. Semua Pembangkit Listrik kita Diserang sehingga Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Bagian Timur Indonesia tidak ada listrik. Apakah ini mungkin ? jawabannya adalah sangat mungkin. Ukraina pernah mengalami mati listrik diseluruh wilayahnya, akibat operasi hacking.

Selanjutnya semua sektor energi lain selain Pembangkit LIstrik diserang, mulai dari Geo Thermal kita jadi berhenti operasi, sumber gas dan minyak kita juga, bahkan sampai ke kilang minyak yang kita operasikan, Semua Serangan ini dimungkinkan dengan menyerang ICS/SCADA dari sektor Energi. Selanjutnya operasi hacking atas sektor Finansial, yang diserang terlebih dahulu tentunya BI, Kementrian keuangan dan BEJ. Hal ini akan menimbulkan kepanikan luar biasa dibidang ekonomi.
Apapun skenario yang bakal mereka lakukan, perang ini berlangsung sampyuh dan hanya menyisakan sedikit orang.

Akan muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya kemampuan pertahanan Indonesia di Cyber-Space, bagaimana Cyber -Resilience, bagaimana Cyber-Detterence kita ?

Bukankah Elite politik kita sudah mulai memetakan dan membuat garis siapa teman dan siapa musuh itu. Dengan terminologi Hizbullah (Prabowo) dan Hizbuz-Syaithan (Jokowi). Biaya produksinya ditanggung Aseng. Dan Islam jadi bahan bakar paling membakar.

Mestinya umat Islam tak perlu kemrungsung dengan pernyataan pemimpin Hizbullah bahwa Indonesia bakal bubar tahun 2030.

Dan jangan terlalu tenang seakan tak ada apa-apa seperti dinyatakan pemimpin Hizbus-syaithan. Pertanyaan besarnya adalah siapa aktor dibalik itu semua .. dan kenapa kita harus perang dengan China atau kenapa kita harus melakukan ini dan itu … apakah kita ini boneka, kalau iya .. pemilik boneka-nya siapa ..
Nah .. kita lihat saja bagaimana jalannya perang itu .. semua prasyarat sedang kita penuhi. Dan maaf saya mufarraqah.

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here