Komunitas Padhang Makhsyar #62: NU ‘ The Real Moslem’ di Nusantara

0
225
Foto K.H.Hasyim Asy'ari diambil dari Pelajar NU Kendal

KLIKMU.CO Tak terbayang, Islam Indonesia tanpa NU. Pergerakan Islam paling merakyat dan mudah dipahami. Gaya dakwah NU bisa diterima semua lapis masyarakat. Tidak menggurui atau melawan kebiasaan. Sebaliknya NU membimbing dan mendampingi.

Dengan model dakwah seperti itu keberadaan NU nyaris tanpa perlawanan bahkan banyak yang menjadikan NU sebagai tempat berlindung. Payung besar menaungi banyak orang. Rumah besar tempat berlindung semuanya .

Watak dasar NU yang ramah dengan budaya dan kebiasaan lokal memposisikannya sebagai sebuah alternatif yang dipilih . Membuat nyaman dan tidak menafikkan. NU menjadi konservasi teologis. Rumah besar bagi muslimin di Indoenesia.,

Tradisi NU tak bisa dilepaskan dari kerja keras Wali Songo. Peletak dasar Islam di nusantara. Wali Songo tak hanya sukses membuat penduduk nusantara memeluk Islam tetapi juga sukses menguasai politik kekuasaan. Peran wali songo di lingkaran istana kekuasaan sangat kental terasa. Setidaknya posisinya sangat diperhitungkan menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan.

Bagi para wali songo, istana kekuasaan bukan sesuatu yang harus ditabukan apalagi dihindari tapi dipahami sebagai kesatuan utuh politik berdakwah. Pemahaman seperti inilah yang membuat dakwah wali songo berhasil. Bukan memposisikan sebagai oposisi, dan tidak menjadikan penguasa sebagai lawan bertanding.

Kerja keras wali songo belum selesai masih banyak aspek yang harus digarap dan NU sangat paham. Dan itu tercermin dalam watak dasar NU yang juga mengilustrasikan wali songo secara utuh.

Para ulama pesantren adalah bukti bahwa keberadaan NU secara kultural teologis mewakili para wali. Dengan benang merah yang sangat kuat baik pada aspek syariah, muamalah bahkan politik, termasuk tasawwuf dengan berbagai khasanahnya.

Kontinuitas gerakan inilah yang menjadikan NU sangat dekat dengan kehidupan masyarakat bukan paham langit yang dibawa hitam putih. NU berhasil menterjemahkan wahyu atau bahasa langit menjadi bahasa sehari-hari yang dimengerti dan dipahami.

Tak terbayang puasa ramadhan, hari raya, pewarisan nilai dan kesejarahan Islam tanpa NU. NU juga berhasil merangkum semua lapis maayarakat dengan gerakan kulturalnya. Model dakwah wali songo yang dipertahankan utuh.

Sosok Para ulamanya begitu kuat pengaruh. Tidak hanya ke atas tapi juga ke bawah. Sebut saja allahuyarham: Mbah Mad Watu Congol, Mbah Muslim Imam Puro, Kyai Chudory Tegalrejo, Kyai Abdullah Faqh Langitan, Kyai Mas Subadar Pasuruan. Dan masih banyak lagi. Semuanya pernah di “sungkemi” para Presiden. Bersyukur saya pernah sungkem, minum air tuangannya dan berta’dzim di hadapannya..

Dan beberapa kyai lain yang masih “sugeng” : Mbah Maimun, Gus Mus, Kyai Ma’ruf Amin, Kyai Machfudz Tidjani Kasepuhan dan lainnya yang tersebar di berbagai pesantren. Kita bisa melihat tradisi sungkem yang dilakukan para sultan dan raja Jawa kepada para wali songo, juga tetap dilakukan para penguasa kepada para kyai hingga hari ini. Sebuah tradisi yang sangat baik sebentuk hubungan sinergis antara ulama dan umara.

Itulah NU yang saya pahami. Sebuah gerakan kultural yang membanggakan. Dakwah efektif lagi efiesien.
Selamat HARLAH NU KE : 92 semoga keberkahan dan kelapangan .. aamiin

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here