Komunitas Padhang Makhsyar #64: Kartini dan Gerakan Pengembaraan Intelektual

0
85
Foto Kartini diambil dari Eramuslim

KLIKMU.CO Apa yang kau dapati saat kau belajar huruf-huruf Belanda, tanya Ngasirah pada putri tercintanya, “Kebebasan”, jawab Kartini lugas. Kemudian Ngasirah melanjutkan pertanyaannya, apa yang tidak kau dapati dari huruf-huruf Belanda itu? Kartini terdiam lama, hingga Ngasirah menjawab sendiri pertanyaannya, “Bakti”.

Ternyata kebebasan tak bisa disandingkan dengan kebaktian. Kebebasan menagih ego, bakti menjamin kebersamaan. Kebebasan adalah soal intelejensia, bakti adalah hati nurani.

Kebebasan adalah soal kepuasan materi sedang bakti adalah tentang spiritualitas. Dua sisi berlawanan yang mustahil berjalan seiring. Belanda menawarkan kebebasan, akal, materi sedang bakti adalah soal kebatinan, nurani dan spiritualitas.

Kartini adalah tokoh pembebas pada jamannya. Orang yang selalu gelisah dengan kemapanan dan aturan baku yang mengikat.

Kartini adalah simbol “kejenuhan dan kebosanan” pada kondisi dimana masyarakat terjebak pada aturan dan norma yang mereka buat sendiri. Mereka menjadi menderita dan jumud karena ulah mereka sendiri.

Jadi. … Kartini bukan hanya soal baju kebaya dan konde besar, juga bukan berjalan jongkok di depan para bangsawan. Atau sekedar upacara setiap tanggal 21 April di kantor-kantor Penguasa. Kartini adalah soal gerakan pengembaraan pemikiran dan intelektual yang melahirkan Kebebasan dan Bekti sekaligus. Keberhasilan gerakan emansipasi perempuan adalah jika berhasil menyandingkan keduanya ( kebebasan dan bekti) dalam satu pribadi: perempuan Indonesia.

Kartini itulah substansi dari “minad dhulumati ila nuur dari kegelapan menuju cahaya terang”.

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here