Komunitas Padhang Makhsyar #65 : Haramkah Pilih Jokowi dan Wajibkah Pilih Prabowo?

0
476
Foto Avenger civil War diambil dari Pinterest

KLIKMU.CO Saya bukan Fans-Boy keduanya: baik Pak Presiden Jokowi maupun Pak Prabowo. Saya hanya seorang penggiat Persyarikatan yang ingin tetap berada di tengah (wasath). Saya hanya berusaha mencari pembenaran, harus memilih siapa diantara kedua muslim yang sama-sama tak saya kenal kecuali lewat berita itu saya berikan.

Saya hanya punya satu biting suara tak lebih. Saya juga tak bisa mengajak atau mempengaruhi orang lain untuk tidak memilih seseorang karena begini dan begitu atau mengajak memilih seseorang karena begini dan begitu. Bahkan dengan pilihan isteri dan kedua anak pun saya juga tak tahu.

Lantas saya temukan tulisan dengan judul yang sangat menarik dengan isi tulisan yang sama sekali tak menarik, tidak rasional dan gampang dipatahkan: HARAM MEMILIH JOKOWI, judul tulisan dengan argumentasi yang sama sekali tidak ada korelasi dan rasionalitas yang sangat subyektif. Dan membatahnya pun juga cukup dengan tiga kata: WAJIBKAH MEMILIH PRABOWO ? Atau yang penting jangan pilih Jokowi. Pilihan berikuthya terserah ? Bagaimana kalau pasangan lainnya adalah: LUHUT BINSAR PANJAITAN. Apa lantas golput menjadi wajib ?

Untuk memperkuat keharaman memilih Jokowi, Penulis yang kemudian bernama Irkham Fanani Al Anjatani, sahabat saya pengasuh Ma’had Nurul Falah Cirebon itu mengutip sebuah ayat al Quran surah an Nisa’ 17: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

*^^*
Sahabat saya ini menjelaskan bahwa “Memilih Jokowe adalah sebuah kesalahan atau kejahatan yang pelakunya harus bertaubat. Diterangkan pula bahwa ayat ini menjelaskan tentang taubat yang dibenarkan oleh Allah swt., yakni taubatnya seseorang yang melakukan tindakan buruk dikarenakan ia tidak tau jika yang dilakukannya itu buruk. Maka setelah ia tau bahwa apa yang telah dilakukannya itu merupakan keburukan, ia pun segera bertaubat kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sama halnya dengan pendukung Jokowi tahun 2014 lalu, mereka tidak tau kalo Jokowi itu pembohong dan pelayan kepentingan aseng. Mereka tertipu oleh gaya pencitraan Jokowi yang sok sederhana dan merakyat. Maka, ketika mereka sadar bahwa mereka telah ditipu oleh gaya penampilan Jokowi, lalu mereka bertaubat, Insya Allah ini akan mudah dimaafkan oleh Allah swt.”. Tulisnya dengan argumen yang lemah dan korelasi yang sangat dipaksakan.

Bukankah ayat ini berlaku umum terhadap siapapun yang melakukan keburukan karena ketidak tahuan dan kenapa hanya pendukung Jokowi saja yang harus bertaubat. Apa ada jaminan bahwa memilih pak Prabowo adalah suatu kebenaran sebagai bukti taubat, kenapa tidak sekalian menyebut: meninggalkan Jokowi menuju Prabowo ibarat ‘minad dhulumaat ilan nuur’ : dari gelap (Jokowi) menuju cahaya (Prabowo). Atau dari partai syetan menuju partai Allah. Begitukah cara berpikir sebagian kita untuk menyuka atau membenci pada salah satu capres.

Itulah keprihatinan di tahun politik, para agamawan tak segan membawa ayat-ayat suci sebagai pembenar. Lantas menyandra agama sebagai alat untuk memperjuangkan tujuan politik jangka pendek. Tak terbayang jika ulama-ulama yang cenderung kepada Jokowi juga menggunakan ayat yang sama dan membalik: HARAM MEMILIH PRABOWO pasti menarik. Sekumpulan ulama dengan ayat yang sama saling mengharamkan pilihan lawan. Perang ayat tak terelakkan, masing-masing pendukung butuh legitimasi, dan Al Quran adalah alat yang paling ampuh untuk membuat setiap pendukung percaya pada pilihannya.

Saudara saya Irkham Fanani tidak sendirian, masih banyak yang lainnya dengan tulisan yang malah lebih kasar. Politisasi agama pada wilayah politik praktis sudah tak bisa di elak. Dengan ayat lain Al Maidah 55 dan 56, polarisasi dikotomis dan menarik garis demarkasi tentang siapa partai Allah (hizbu Allah) dan siapa partai syetan (hiz bus syaithan) juga menjadi bincang tidak menarik. Sebuah statement politik gegabah di tahun sensi.

Agama dipolitisasi, Tuhan dibawa pada wilayah sempit untuk tujuan politik praktis. Dan ini sangat berbahaya dan mengerikan. Akan terjadi konflik horisontal di internal umat Islam hanya karena beda pilihan dalam berpolitik. Jika para ulama terus begini tanpa kendali .. kita tinggal menunggu menjadi Syuriah ke dua … insya Allah … aamiin 🙏🙏🙏

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here