Komunitas Padhang Makhsyar #69: Menyoal Pendidikan di Hari Pendidikan

0
43
Foto pembelajaran kelas di daerah terpencil diambil dari cabiklunik.blogspot.com

KLIKMU.CO- Di Bali ibu guru harus menanggung malu karena jilbabnya dilepas paksa dan rambutnya digunduli oleh wali murid yang kecewa karena anaknya dibentak. Di Sulawesi tangan dan wajah ibu guru remuk dihajar orang tua yang kalap karena tak rela anak kesayangannya dicubit. Di Sampang nyawa seorang guru melayang di tangan sang murid. Di Jakarta ibu guru bersimbah darah terkapar dan mati, lemparan kaca sang murid tepat mengenai jidat.

Selamat datang generasi Arok.
Mpu Gandring tak sendiri, ia yang meregang nyawa di tangan muridnya karena pesanan kerisnya tak kunjung selesai. Gandring dibunuh dengan keris buah tangannya yang belum selesai tinggal rangka. Gandring berlumuran darah, beberapa kali Arok membenam keris sakti ke tubuh gurunya yang renta. Gandring yang malang itu mati bersimbah darah dengan luka dan kutukan sumpah serapah.

Tri Pusat Pendidikan, keluarga, sekolah dan masyarakat atau lingkungan adalah episentrum pembelajaran dan pendidikan bagi anak, ketiganya saling menggenapi, tak boleh saling merendahkan apalagi saling menyerang, tapi sayangnya ketiganya berlangsung kurang harmonis dan berebut hegemoni, mungkin kita telah melupakan salah satunya dan mengedepankan satu lainnya. Ada perlakuan tak adil terhadap tiga pusat pendidikan yang mestinya dirawat sama agar tak saling mengalahkan.

Sekolah mungkin saja menjadi dominan sehingga mengalahkan dua tri pusat lainnya atau sebaliknya keluarga merasa paling hegemonik lalu membuat sekolah kocar kacir dan riuh karena intervensi para orang tua murid yang cerewet sok tahu tentang pendidikan. Pun dengan lingkungan (milleu) yang berlindung dibawah KPAI dan HAM terasa menjadi semacam mandor yang terus mengawasi dan mencari salah, ada perubahan cepat dan kita lupa tak menghiraukannya. Anak-anak tumbuh pincang karena tri pusat pendidikan berpengaruh tak seimbang.

Yang terjadi berikuthya adalah saling menyalahkan, sekolah menyalahkan keluarga dan lingkungan buruk anak, sebaliknya keluarga menyalahkan sekolah yang arogan dengan pendidikan yang sarat birokrasi. Tri pusat pendidikan berjalan sendiri-sendiri. Sekolah mengira bakal berhasil mengemban amanah pendidikan tanpa dua lainnya pun sebaliknya, keluarga dan lingkungan yang terus menuntut.

Sekolah, keluarga dan lingkungan mengambil posisi saling berhadapan. Ketiganya tidak saling menyapa. Guru hanya mengenal siswa tapi tak hirau pada orang tua dan lingkungan anak. Orang tua juga tak pernah kenal pada guru, pada siapa anaknya dididik. Komunikasi tripusat pendidikan pun putus oleh birokrasi.

Bagaimanapun guru berada disimpang takut dan bimbang antara hanya mengajar atau mendidik. Profesi guru tak lagi kebal hukum bahkan sekedar mencubit saja bila tak beruntung bisa mati atau dibui atas nama HAM dan perlindungan anak.

Dan ‘mengajar’ menjadi pilihan guru paling aman daripada berurusan dengan berbagai lembaga atau komisi yang setiap saat mengawasi mencari salah. Suasana pendidikan berlangsung kurang kondusif karena tri pusat pendidikan berdiri saling curiga karena takut di mangsa.

Ada baiknya kita kembali pada nilai dasar pendidikan bagi anak, anak dilahirkan dalam keadaan fitrah seperti kertas putih bergantung orang tuanya apakah dia bakal menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Orang tua bisa bermakna luas. Sekolah, keluarga dan lingkungan adalah orang tua bagi anak. Baik sebagai orang tua biologis atau orang tua natural-sosiologis.

Semua kejadian yang menimpa guru dan murid kita jadikan sebagai pengingat agar kita kembali ke jalan fitrah, agar semua kembali pada Khittah Pendidikan. Pendidikan adalah tanggungjawab bersama, bukan berebut dominan merasa paling urgen. Wallahu a’lam

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here