Komunitas Padhang Makhsyar #69: Politik Utopis Aktivis Persyarikatan

0
143
Foto PDM Surabaya bersama DPW PAN Jawa Timur oleh Ferry

KLIKMU.CO- Kyai Ahmad Dahlan datang bertandang di kandang kaum nasionalis sekuler. Kumpulan anak muda Indonesia terdidik alumni Belanda dan sekolah priyayi lainnya. Diskusi berat tentang kebangsaan, nasionalisme dan kemerdekaan. Di luaran nyaring terdengar gagasan Pan Islamisme Syaikh Jamaluddin Al Afghani juga harakah politik Islam lainnya yang tak kalah deras. Ada Ikhwan di Mesir, Hizbut Tahrir di Palestina dan harakah-harakah lainnya yang mengusung Islam sebagai ideologi.

Kyai Dahlan sendirian di tengah kelimun pragmatisme politik gaya Eropa. Tak banyak santri mengerti politik saat itu bahkan membaca huruf latin saja bisa dihitung dengan jari.

Keberanian Kyai Dahlan ‘keluar-kotak’ dan menemui komunitas nasionalis, sekuler dan kejawen patut di apresiasi, agar ulama tak hanya merasa besar di rumah sendiri. Seperti katak dalam tempurung. Nyaring terdengar di grup sendiri tapi diam seribu kata saat bertemu lawan sebanding.

Berbeda dengan Kyai Dahlan yang berani keluar kotak, aktifis Persyarikatan hanya terdengar riuh di grup sendiri. Keras pada teman sendiri tapi lembek saat lawan beneran ada di hadapan. Hanya berani bilang bid’ah di jamaah masjid sendiri tapi diam saat pelaku bid’ah beneran ada disampingnya. Saya memimpikan aktifis muda Persyarikatan dari berbagai lapis tingkatan berdebat dengan kaum abangan, komunis, nasionalis sekuler di ruang terbuka tentang kebangsaan, ke-Indonesia-an, kemoderenan dan ke-Islaman.

Sayangnya kita sering membuat kotak sempit dan tak punya paham sama tentang apa itu politik. Berbagai idiom terus gencar kita terima bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis dengan konsep dan pengertian yang tydak utuh. Berbagai persepsi mengemuka dikalangan warga Persyarikatan bahkan juga pimpinan yang mengharamkan mendekati politik bahkan hanya sekedar bertemu dan berjabat dengan penguasa saja dicurigai sebagai antek.

Ada keterpurukan informasi yang berakibat Muhammadiyah justru tuna politik. Kita terpenjara pada jargon “tidak berpolitik praktis”, menjadi semacam ayat suci yang harus di taati semua warga dengan pengertian masing-masing. Lantas kita semua seakan menjadi orang suci yang tinggal di atas menara gading, berlagak layaknya orang suci tanpa cela sambil membandingkan dirinya dengan para politisi yang dianggap najis penuh dosa.

Ibarat panggung etalase, jagat politik kita kehilangan keindahan. Hilang spiritualitas dan makna substantif. Yang tinggal hanya politik adu mulut, caci maki dan intrik untuk terus bisa berkuasa. Tidak salah kondisi demikian, bukankah para orang baik hanya duduk berpangku tangan sambil membaca mantra, dengan mantra itu ia berharap kebaikan dan kemakmuran bisa wujud.

Sayidina Umar ra pernah marah terhadap pemuda yang tidak pernah beranjak dari masjid sembari berharap kebaikan dan keberhasilan datang menghampiri. Pergi kataku, Allah tidak akan turunkan hujan emas dari langit ..”, kepada pemuda yang mulai beringsut keluar masjid.

Kehidupan yang baik, harus diperjuangkan dengan segala daya tanpa deskriminasi dan kotak-kotak wilayah. Ini hidup, soal pilihan dan semua mengandung resiko. Politik adalah soal mencari teman dan dukungan, bukan deret ayat dan hadits yang di jejer seperti hendak ber-Khutbah. Politik adalah bagaimana orang yang tak suka menjadi suka, mendukung dan memilih dibilik suara. Bukan deret statement dan jargon untuk suasana gaduh .. .. politik adalah soal strategi memenangi pertarungan bukan kumpulan kata-kata bijak penuh buih … tapiironisnya kita sedang tinggal di wilayah utophis. Politik itu harus begini dan begitu dan bukan begini dan begitu … itu mah .. politik di Republik surga.

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here