Komunitas Padhang Makhsyar #72: Trias Politika Melawan Sunnah

0
697
Foto Ilustrasi peperangan diambil dari situharn history blogspot

KLIKMU.CO Dalam diri Nabi saw terdapat tiga kekuasaan: Kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Tiga kekuasaan dipegang Nabi sekaligus dan Nabi saw bisa dengan sempurna melakukannya tanpa cela. Tak heran jika Michael Heart menempatkan Nabi di urutan pertama sebagai orang paling berpengaruh mengubah dunia.

Nabi adalah pusat episentrum kekuasaan yang tidak terpisah apalagi terbagi. Dalam diri Beliau terdapat segala macam kebaikan. Ma’shum terjaga dari kesalahan dan kekurangan. Jadi meski memiliki kekuasaan absolut Nabi tak mungkin melakukan kesalahan apalagi penyimpangan.

Pun dengan para penerusnya: Abu Bakar as Sidiq, Umar Ibnul Khattab, Ustman Ibnu Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka pewaris Nabi meski tak sempurna dan mendapat kekuasaan dengan cara yang rumit dan menyisakan banyak masalah. Melahirkan kelompok, aliran dan manhaj. Bahkan tiga khalifah selain Abu Bakar dibunuh karena persekongkolan politik dari pengikut yang kecewa.

Islam tak mengenal pikiran dikotomis ulama dan umara sebab keduanya adalah kesatuan utuh. Apalagi menjadikan keduanya saling berhadapan. Pemisahan ulama dan umara adalah imbas dari kegagalan gereja mengelola kekuasaan di Eropa abad kegelapan. Sebagai bentuk hukuman yang harus diterima. Gereja hanya boleh ngurusi ruhani, pertobatan dan sakramen di gereja dan haram ngurus politik dan kekuasaan.

Adalah JJ Reasseau dan John Locke yang pertama kali mengenalkan paham trikotomi kekuasaan yang sebelumnya dipegang absolut para raja dan ratu. Doktrin Trias Politika ini kemudian dijadikan fundamen mengurangi kewenangan dan membaginya.

Trias Politika hanyalah imbas dari kegagalan KrIsten mengelola negara. Gereja yang arogan itu akhirnya kalah dan dimarjinalkan dengan sekulairisasi dan termasuk Trias politika sebagai bentuknya yang real. Kristen dibenam pada tembok kekuasaan yang rapuh dan mudah patah.

Demokrasi berlangsung masif. Kekuasaan berpindah kepada rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Semua diputus berdasar voting suara terbanyak begitu seterusnya. Musyawarah dan mufakat sebagai ruh demokrasi dibenam digantikan voting dan suara terbanyak. Lantas apa yang tersisa kecuali riuh suara bandar dan cukong yang membagi recehan pada pemilik suara.

Socrates pun harus rela diracun mati sebagai hukuman atas kekalahan pada kelompok yang banyak. Pada akhirnya demokrasi tetap saja sebuah kekuasaan mengalahkan yang sedikit. Musyawarah mufakat dibenam pada hitung voting.

Pembagian kekuasaan tak lebih hanya sebuah tipuan. Ketiganya hanya konspirasi untuk membungkam aspirasi rakyat banyak. Dan rakyat sekali lagi hanya alat untuk memenuhi segala keinginan para penguasa. Atas nama rakyat pula rakyat di tindas. Lalu siapa sebenarnya berkuasa.

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here