Komunitas Padhang Makhsyar #74: Hizbut Tahrir Indonesia: Taqqiyah dan Teologi Politik, Ketika Allah Berdaulat

0
376
Foto bumi dalam radar diambil dari phys.org

KLIKMU.CO- HTI adalah partai politik. Itu kata kuncinya. Jadi tak ada kaitannya dengan masuk surga atau neraka. Ini pyur ijtihad politik di wilayah praksis. “Kembalikan kedaulatan rakyat kepada kedaulatan Allah saja. Hancurkan sekat-sekat nasionalisme yang telah memecah belah kita semua “, demikian salah satu jargon yang diusung HTI dalam sebuah muktamar di Senayan beberapa waktu lalu. Dari gagasan itu jelas nampak bahwa teologi politik HTI adalah Theokrasi, kedaulatan di tangan Tuhan. Ini sebenarnya gagasan klasik yang lama di usung.

Bagaimanapun kita tahu bahwa Theokrasi telah kalah dan ditinggalkan. Artinya tak ada yang baru dalam teologi politik HTI. Konsepnya tentang kedaulatan Tuhan juga hal biasa. Bahkan Kresten Eropa sudah lama praktik dan meninggalkannya tanpa sisa. Theokrasi banyak menyimpang mengatas namakan Tuhan untuk sebuah kekuasaan atau kedaulatan hanya akan menambah soal di tataran praksis.

Jangan lupa bahwa demokrasi lahir dan besar adalah jawaban kegagalan negara Theokrasi. Agama menjadi korup dan banyak melakukan praktik buruk atas nama kedaulatan Tuhan. Inilah yang kemudian di lawan banyak orang. Theokrasi pun rubuh dan tak bisa berlangsung lama.

Lepas dari soal teologis apakah khilafah itu kewajiban atau semacam ijtihady dalam ikhtiar menegakkan syariat dan khilaf pendapat ulama tentang khilafah. Sebaiknya membahas khilafah dalam lingkup spesifik sebagai sistem negara atau bentuk negara yang setara dengan sistem lainnya termasuk demokrasi, aristokrasi dan sebagainya yang sejenis.

Kita sering rancu dalam berpikir. Diantara khilafah sebagai kajian teologis, fiqh, dan politik praktis yang hendak diusung untuk mengganti sebuah sistem yang sah. Maka kasus HTI di Indonesia adalah pyur soal sebuah sistem negara Theo-krasi sebagai anti-tesis Demo-krasi. (Kedaulatan Tuhan vs Kedaulatan Rakyat).

Menjadi ambigu ketika HTI juga mengakui adanya Pancasila dan UUD 45. Usaha sembunyi (Taqqiyah) di siang bolong. Bagaimana mungkin konsep teologis dan ideologis HTI setuju dengan Pancasila dan UUD 45 ? itu pasti dusta sebab sejatinya HTI berlawanan dengan ideologi yang mereka yakini sebab itu mereka akan menggantinya dengan khilafah.

Tak ada yang salah dengan konsep khilafah atau Theokrasi tapi juga tak salah jika Pemerintah yang sah membubarkan siapapun yang hendak mengganti negara Pancasila dengan bentuk apapun. Dan bukan hanya HTI siapapun ormas atau partai politik yang hendak mengubah sistem dan bentuk negara adalah makar dan subversif.

Selesaikah ? Belum .. sebab yang dibubarkan adalah organisasi nya. Lalu bagaimana dengan ideologi yang hidup dipikiran. Sama halnya dengan kasus komunis. PKI memang telah bubar tapi siapa bisa bubarkan ideologi komunis sebagai pandangan hidup, state of mind atau ideologi politik dan weltstanchaung.

Itulah uniknya idelogi. Tak ada penjara untuk membungkam ideologi di pikiran. Dan itulah politik kekuasaan. Tak perlu banyak pertimbangan. Di bubarkan karena melawan. Itu lebih gampang dan praktis ketimbang di pikir berbelit.

Lalu kemana ribuan HTI berlabuh. Ini juga soal lain di tahun politik. Ini soal biting suara yang di upayakan tidak dibuang sia sia. Lalu siapa cerdas memanfaatkan situasi. Dan semudah itukah HTI yang militan itu memberikan gratis suaranya. Dan jangan lupa, HTI suka dengan cara ilviltrasi dan kudeta untuk memenangi pertarungan. Sebab pemilu terlalu lama dan ber-ongkos mahal, katanya.

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here