Komunitas Padhang Makhsyar #75: Merawat Radikalisme di Jalan Tuhan

0
420
Foto Boneka peperangan diambil dari ejajufri.wordpress.com

KLIKMU.CO

Akar Radikalisme.
*****
Sakit yang mendalam akan melahirkan perlawanan. Berawal dari penindasan dan intimidasi. Negara-negara barat Kristen yang mengacak-acak negeri muslim. Termasuk bias dalam menyikapi HAM. Kesenjangan ekonomi dan kepongahan dalam tata pergaulan yang egaliter dan bermartabat. Amerika gagal menjadi contoh. Umat Islam marah. Merasa harga dirinya diinjak. Agamanya dilecehkan. Lantas barat dicap Thaghuts dan dijadikan musuh bersama.

Bermula dari kumpulan rasa sakit yang memburuk dan menanah. Radikalisme menemukan bentuk. Melawan dengan cara yang mereka mampu. Barat adalah simbol Thaghuts dan contoh perilaku buruk.

Kumpulan rasa sakit, menjadi sakit kolektif. Dirasakan bersama. Di pikir bersama. Kemudian dibuat musuh bersama. Musuh bersama itu diberi nama Thaghut. Thaghuts sejenis Berhala. Musuh nomor wahid. Epidemi dan harus dimusnahkan. Simbol musuh dan tandingan Allah.

Thaghuts adalah visualisasi musuh Allah. Bertindak lalim dan pongah. Mati karena melawan Thaghuts adalah Syahid dan Syahid pasti masuk surga demikian yang diimani. Anda boleh bersetuju atau sebaliknya tapi tidak penting, keyakinan adalah soal hati tak perlu rasionalisasi akal sehat.

Dalam hal Thaghuts kita menyebutnya kelompok kafir. Baik kafir generik atau yang kita kafirkan. Kelompok melawan Allah. Membuat hukum sendiri. Bahkan merusak. Dalam terminologi Islam Thaghuts adalah Yahudi, Nasrani dan agama pagan lainnya.
Ada empat macam Simbol Thaghuts: Firaun penguasa rezim korup dan lalim. Qorun si kapitalis menghisap seperti lintah. Hamman cendekiawan pelacur dan Bal’am ulama syu penjual fatwa untuk kepentingan perutnya.

Belakangan Thaghuts adalah Amerika dan negara-negara Eropa dan sekutunya. Negara adidaya yang paling banyak memburu negara-negara Islam menjadi berantakan. Bahkan Thaghuts mengerucut menjadi Israel. Negara kecil paling nakal di dunia. Tapi mendapat perlakuan istimewa. Dan terakhir adalah polisi penyokong kekuasaan Thaghuts.

Varian Thaghuts juga mengalami perkembangan signifikan. Siapapun yang dianggap mendukung atau bekerja sama denganya juga dianggap Thaghuts. Konsep inilah yang sekarang terus menguat. Maka rezim Jokowi juga dianggap Thaghuts. Bahkan sebelumnya rezim Soeharto, Habibie, Mega, SBY bahkan Gus Dur yang besar dan lahir dari pesantren pun juga dianggap sama. Dari sinilah konsep Thaghuts menjadi bias karena ukuran melawan dan musuh Allah menjadi sangat subyektif.

Thaghuts sebagai lawan dan tandingan Allah menjadi tak tentu arah. Maka siapapun bisa menjadi sasaran amuk. Tak adanya musuh nyata atau simbol Thaghuts secara fisik membuat para jihadis membuat sketsa samar. Agar perlawanan tetap berlangsung masif. Menciptakan musuh untuk dijadikan sarana menuju surga.

Mujahid
***
Bagi para jihadis ada dua tujuan mulia yang bakal diraih. Pertama, tujuan personal mendapat surga. Hidup abadi di leher burung yang terbang di kebun surga siapa tak ingin. Belum lagi hadiah 37 bidadari siap melayani. Makan dan tidur enak. Di istana megah dan luas. Tanpa akhir. Kedua, menegakkan daulah Islamiyah. Agar hukum Allah tegak berdiri. Hukum yang kita anuti sekarang adalah buatan manusia atau rezim penguasa yang melawan. Hukum Thaghuts. Dan harus dihancurkan termasuk dengan cara membunuh atau bunuh diri dengan bom ditubuh. Ini cara paling eksotik menuju surga.

Para jihadis suka dengan cara begini. Jalan pintas menuju surga. Daulah Islamiyah hanya alibi karena mereka juga yakin tidak bakal terwujud. Tapi mereka perlu sarana agar bunuh diri atau membunuh menjadi halal. Dan dihitung pahala. Dibuatlah sarana atau area sebagai medan jihad meski yang dibunuh adalah teman seiman.

Pan Islamisme.
***
Pan Islamisme yang digagas Syaikh Jamaluddin Al Afghany seorang pejuang Islam lintas tanah air dari Afghanistan setidaknya menjadi simbol bagaimana menegakkan Daulah Islam lintas bangsa dan lintas tanah air. Syaikh Afghan menggagas Daulah Islamiyah tidak mengenal batas ruang dan tanah air. Bagi Afghan tanah air umat Islam bersifat universal dan tidak dibatasi negara atau Jazirah. Penganjur gagasan ini berusaha menghapus negara-negara dan menggantinya dengan Daulah Islamiyah yang lebih luas menyeluruh.

Ironisnya gagasan Afghan malah direspons terbalik. Bukannya Daulah Islamiyah yang didapat justru perseteruan dimana-mana. Bahkan negeri tempat Afghan lahir dan besar justru tercerai berai. Pecah belah sesama muslim sendiri. Lalu bagaimana Afghan bisa tegak bicara lantang tentang Pan Islamisme jika negerinya sendiri saja berantakan. Jazirah Arab bahkan terpecah menjadi tujuh negara bagian. Padahal satu agama, satu bahasa, satu budaya dan satu daratan.

Pan Islamisme hanya gagasan uthophies. Pengikutnya tersebar di beberapa negara dan terus berkeras merealisasi. Meski kenyataan kian menjauh.

Pan Islamisme menganggap semua negara Islam adalah tanah air. Syuriah, Palestina, Libya, Iraq, Iran, Saudi, Bahrain, Qatar, UEA, Sabah, Aljazair, Mali, Pakistan, Indonesia, Bangldesh, Marawi dan beberapa negara Islam lainnya adalah tanah air sendiri. Ibarat satu tubuh yang satu. Satu disakiti maka semua anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit.

Dengan konsep satu tubuh maka perlawanan dan pembalasan bisa dilakukan dimanapun. Bom teror markas polisi sejatinya adalah bentuk pembalasan atas perlakuan buruk polisi Israel terhadap masyarakat Islam Palestina. Begitu pula dengan tindakan-tindakan kekerasan atas nama jihad yang terjadi di London akhir-akhir ini atau bom WTC yang spektakuler adalah pembalasan atas perlakuan lalim negara-negara Thaghuts pada negeri-negeri muslim seperti Libya, Iraq, Syuriah, Aljier dan sebagainya. Jadi gerakan apapun yang mengatas namakan jihad di negeri kita selalu berkait erat dengan perlakuan negara Thaghuts atas Negeri muslim di manapun.

Konspirasi Teori
***
Hanya dugaan semoga salah. Radikalisme dan teror dipelihara untuk menjaga hidup tetap harmoni. Dari situlah semua mendapat rizki. Polisi eksis pun dengan pihak militer lainnya. Setidaknya uang lembur di dapat. Seragam baru dan fasilitas, termasuk alutsita laku keras di pasar gelap.

Sebuah drama indah saling menguntungkan. Beberapa pejabat militer mendapat promo karena sukses menangkap atau membunuh mati para jihadis. Sebaliknya para jihadis cepat masuk surga karena syahid dibunuh. Wallahua’lam

 

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here