Komunitas Padhang Makhsyar #77: Statuto Phobia

0
54
Foto cerminan diri diambil dari tabung wakaf

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kita butuh hantu. Sesuatu yang dibiang-keladikan. Dijadikan salah dan dibunuh ramai. Statuto Phobia satu virus akut. Kejam dan membunuh. Hinggap dimanapun. Saya atau kita semuanya tanpa kecuali. Pada penderita selalu mencari kambing hitam. Setidaknya sesuatu yang bisa disalahkan untuk dibunuh. Di bully atau sekedar direndahkan di muka umum.

Sejarah penuh dengan adegan kumal. Sewenang-wenang karena statuto phobia. Tapi manusia tak kunjung kapok. Apalagi belajar dari sejarah kelam masa lalu. Inginnya malah mengulang. Dan membuat lebih. Kita mudah percaya pada berita atau rencana jahat di seberang rumah.

Kita gampang dibodohi. Dan gemar terima kabar dusta. Menelan mentah suatu teori konspirasi. Statuto Phobia itulah yang menyebabkan Prof Quraisy Syihab di boikot. Fatwanya diabaikan. Dibilang sesat bahkan kafir. Jokowi luluh lantak di bilang antek PKI. Atau Keturunan China. Rizieq Syihab tak juga pulang karena gosip pornografi. Amien Rais pun keder saat dinyatakan terima aliran dana tersesat.

Kyai Ushman Bashir wajah nya remuk ditinju, Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Felix Siaw beberapa kali gagal ketemu dengan jamaah karena halaqahnya dibubarkan sebab dianggap intoleran, radikal dan anti kebinekaan. Menolak teror dengan cara intimidasi. Mengusir yang dianggap radikal dengan teror. Akibatnya jelas: kekerasan semakin menguat.

Masjid at Taqwa Simalungun dibakar dan terakhir gereja Lidwina Sleman rusak Romo Preer harus dirawat setelah sebelumnya kejadian serupa menimpa bhiksu Mulyanto Nurhalim di Legok Banten ditolak melakukan aktifitas. Siapapun bisa membuat status meski tak utuh. Dan tak perlu klarifikasi.

Statuto Phobia tentang migrasi 10 bahkan 20 juta tenaga kerja dari China yang konon menguasai pesisir. Atau 9 naga yang mencaplok Jakarta. Kebangkitan PKI. Dan isu-isu rasis lainnya. Kita memang suka dengan yang tak utuh dan tak perlu bukti. Dan menelan mentah tanpa klarifikasi. Semua dusta. Dan kita suka mengunyah mentah berita. Dan berakibat fatal karena kita tiba tiba menjadi gelap mata. Dan bisa melakukan appaqun atas nama kebenaran yang kita yakini.

***
Berabad silam Dzu Nuwas beringas. Membunuh orang beriman penganut Nasrani yang dituduh makar. Puluhan ribu dimasukkan parit dan dibakar.
Beratus tahun yang lalu pada masa Raja Nero sejumlah penganut Kresten dilempar ke mulut singa. Disoraki rakyat banyak. Karena dituduh membakar ibu kota.
Sayyidina Ali ra khalifah empat dijamin masuk surga tanpa dihisab. Ditikam dari belakang. Sebelum dikafirkan karena berdamai dengan Muawwiyah.

Di awal tahun 1940 an Hitler membunuhi orang Yahudi yang dituding membuat skenario menguasai dunia.
Tahun 1965 ribuan yang dituduh PKI digorok. Dengan alasan sama. Sebelumnya PKI juga membunuh jamaah pulang subuh. Para jendral dan makar. Statuto Phobia memang mengerikan. Ditengah jaman itulah kita sekarang dihidupkan.

***
Singkatnya, kita gemar berbisik. Bergosip hingga larut. Mungkin kita perlu melakukan muhasabah mana dominan pengetahuan di dapat. Dari belajar keras atau gosip picisan. Dan itu akan mengilustrasikan wajah kita seperti apa. Wajah ilmuwan atau wajah bopeng penuh gosip.

Penderita Statuto Phobia bukan karena kurang terpelajar atau kurang informasi. Justru mayoritas penderita adalah para ilmuwan yang hilang taji. Tak punya komunitas dan media bercengkerama. Alias kurang gaul. Pulangnya kurang malam. Dan mainnya kurang jauh. Atau mungkin sekali dia mengalami penindasan dan intimidasi saat di rumah.
***

Kita umumnya tak sabar. Lalu menunjuk hidung sebelum memotong hidung atau menebasnya dengan golok. Kita ketakutan tak punya gambaran utuh tentang sesuatu yang kita takuti. Kita berkeras membuat sebuah gambar atau cerita atau kabar yang dengan mudah kita telan.

Kita perlu cerita untuk itu semua. Agar ketakutan bisa dilihat dan didengar meski tak utuh. Diciptakan berbagai status untuk membangun opini. Yang dapat disalahkan kemudian dibunuh ramai-ramai.

Lalu terbangunlah imaje tentang rasa takut dan cemas. Menjadi hantu yang menguasai pikiran. Hantu radikaliame. Hantu PKI. Hantu liberalisme. Hantu China. Hantu vandalisme. Hantu ISIS. Hantu Syiah. Dan hantu-hantu lain yang dapat mengenyangi pikiran busuk kita. Diciptakan untuk dimusnahkan atau di bully ramai.

Para pembuat status yang terus menyebar benci. Permusuhan dan dendam. Dengan pikiran busuk dan rendah. Memfitnah dengan kabar dusta. Tanpa klarifikasi. Membuat sketsa dan cerita. Kemudian di bully dan direndahkan di depan banyak orang.

Kita hanya ingin semua yang tidak kita sukai rubuh dan jatuh. Dan gemar melihat tubuh bergelantung dibakar. Sesaat Dzun Nuwas penguasa Yaman yang ketakutan tiraninya goyah pada kisah Ash Habul Qaryah. Menguliti dan membakar orang beriman penganut Nasrani. Semua bermula dari kabar dusta.

Statuto Phobia memang mengerikan. Ini soal kita jadi tak perlu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Kita .. ini soal kita.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here