Komunitas Padhang Makhsyar #80: Mimpi Tentang Islam Raya

0
53
Foto peta dunia Islam bersatu diambik dari Porindo.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jazirah Arab satu pulau. Satu agama. Satu bahasa dengan beberapa dialek. Hanya beberapa budaya, berpecah menjadi tujuh bagian. Yugoslavia berkeping-keping setelah ditinggal Tito. Rusia berantakan karena glatsnots dan prestroika semasa Gorbachev.

Foto peta dunia Islam bersatu diambik dari Porindo.com

Banyak negara lainnya di belahan bumi tak dapat bertahan bahkan India menjadi beberapa bagian kerajaan kecil. Apalagi negara-negara di Afrika, perang saudara antar suku dan agama. Tak terhitung nyawa juga harta ludes dibakar marah. Di Eropa kita masih segar diingatan penindasan gereja menjadi jaman paling gelap dan buruk sepanjang sejarah Eropa.

Pentingnya memisah antara agama sebagai murni ajaran dan realitas keumatan sebagai subyek pokok pengamal. Tak perlu berdebat soal kesempurnaan dan ketinggian ajaran agama Islam. Baik konsep teologisnya. Kemurnian kitab suci. Dan kompletnya tata kelola kolektif dan personal (syariat). Hanya Islam yang mengatur bersih diri (thaharah), aurat, faraid dan akhlaq, dimana agama lain tidak menyentuhnya sama sekali. Artinya kesempurnaan dan ketinggian Islam begitu sempurna.

Kita mesti kritis berpikir. Kenapa Islam yang agung itu gagal menjadi ideologi alternatif bahkan konflik dan perselisihan tentang khilafah terjadi saat jenazah sang junjungan masih hangat belum masuk liang lahat. Konflik juga terus berlanjut pada proses suksesi khalifah berikutnya. Islam gagal saat menjadi idelogi kolektif. Tidak mampu meredam konflik dan selisih kecil-kecil.

Ironisnya perbedaan manhaj justru diproduksi di masjid masjid. Tentang jumlah rakaat shalat tarweh. Soal lafal niat. Qunut dalam shalat subuh. Ziarah qubur. Perlakuan terhadap mayat, isbal, gamis, pengucapan sayyidina, batalnya wudhu ketika bersentuhan kulit yang bukan muhrim, dhiba dan istighotsah dst. Tapi boleh tidak percaya justru dari sinilah polarisasi ideologi Islam dimulai dan terus membesar.

Selisih kecil-kecil itu telah membuat jarak yang sangat jauh bahkan kemudian dijadikan simbol gerakan atau kelompok. Kerap juga dijadikan alat untuk melakukan deskresi dan pemilahan. Pada tataran elite juga mendapatkan pembenaran dari aspek teologis. Artinya khilaf kecil dalam urusan furuiyah ini menjadi alat paling ampuh untuk membuat jarak semakin merenggang menjauh. Hingga membentuk polarisasi manhaj dan ideologi.

Dari sinilah kemudian saya pesimis Islam bisa tampil sebagai alternatif idelogi yang menyatukan. Karena kita(umat) gagal mengelola perbedaan menjadi rahmat.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here