Komunitas Padhang Makhsyar #81: Lelaku Puasa Batin

0
123
Foto orang meditasi diambil dari nuansa supranatural

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kami ingin berlapar-lapar dan haus selama sebulan penuh agar kami tak kelaparan dan kehausan saat tak ada makanan dan minuman selama 50 ribu tahun di Padhang Makhsyar. Saat dimana bumi di datarkan, langit direndahkan, matahari bersinar tanpa penghalang. Berdiri rata usia. Tanpa alas kaki. Belum disunat. Telanjang tanpa pakaian. Berlumur peluh. Sesuai amal perbuatan.

Padhang Makhsyar tempat segala makhluk berkumpul dari awal penciptaan hingga semesta dibenam. Langit dibuka. Mizan dihidupkan. Sirath dibentang. Kitab amal dibagi. Telaga Al haudh ditanda. Api neraka dinyalakan. Delapan pintu surga dibuka. Hidup abadi dimulai. Yang sengsara di neraka semakin sengsara. Yang bahagia hidup di surga semakin bahagia. Tidak ada kematian lagi karena malaikat maut sudah dipenggal di jembatan sirath disaksikan seluruh penghuni neraka dan surga.
Tak ada siang apalagi malam. Waktu kembali pada titik semula. Abadi hingga waktu yang ditentukan.

Puasa hanya diwajibkan bagi yang beriman. Allahpun berjanji akan memberi balasanya sendiri: “puasa ini untuk-Ku dan hanya Aku yang akan memberi balasannya”.

*^^*
Sesaat sebelum melintas di sungai, Iskandar Zulqarnain berpesan kepada semua prajurit yang hendak melintas. Ambil semua yang kau injak. Jangan disisakan sedikitpun. Sebagian prajurit mengabaikan dan terus berlalu tanpa mengambil satupun. Sebagian mengambil secukupnya sambil lalu. Dan sebagian mengambil dengan sungguh-sungguh memenuhi semua saku, tas dan semua tempat yang ada. Hingga tak kuat berjalan.

Sesampai di tepian Iskandar Zulqarnain memerintahkan semua prajurit berhenti dan berkata:” Pulanglah kalian semua temui anak isteri dan keluargamu, aku tak bisa berikan apapun pada kalian setelah perjuangan panjang ini. Hadiahkan apa yang sudah kau ambil dari sungai tadi pada keluargamu.

Semua prajurit teringat perintah Iskandar Zulqarnain sesaat sebelum masuk melintas di sungai. Dibukanya saku dan kantung baju dan celananya. Ternyata adalah batu mutiara. Beberapa pingsan karena mengabaikan tak mengambil satupun. Beberapa menyesal karena mengambil sambil lalu. Dan beberapa bersuka cita karena saku dan kantungnya penuh dengan batu mutiara.

Ramadhan telah tiba didalamnya ada banyak mutiara, yaqqqut dan Marjan silakan diambil sesuka hati untuk bekal di Padhang Makhsyar.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here