Komunitas Padhang Makhsyar #81: Sepotong Surga: Pada Duri yang di Pinggirkan (Taddarus-2)

0
570
Foto lampu berbentuk duri diambil dari wallhere.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Impian punya rumah dan hidup mewah di surga. Tak ada susah, sakit, sedih dan mati. Semua serba tercukupi apapun keinginan pasti terpenuhi tanpa bekerja keras. Semuanya mudah tak ada sulit. Kabarnya di surga orang tak lagi berpecahan. Menjadi homogen. Tak ada manhaj yang berbeda. Semua beragama sama. Tak ada miskin atau faqir. Jadi tak perlu bersedekah apalagi berzakat. Semua menjadi juragan. Punya istana. Rumah dan konon semua istrinya banyak. Semua penduduk surga poligami.

Penduduk surga semua berhati mulia. Tampan dan cantik lahir dan batinnya. Pendek kata semua tentang impian dan angan angan bakal terwujud. Tanpa bekerja keras dan bersusah payah seperti saat di dunia.

Sepotong surga yang digambarkan demikian adanya. Dan yang jelas tak bisa dijelaskan dengan nalar dan kata-kata. Kepadanyalah semua kita menuju. Maka surga bisa menjadi apapun yang kita bayangkan.

***
Berbagai amalan dilakukan untuk mendapat surga. Bukan hanya yang wajib bahkan segala sunah pun dilakukan dengan berbagai cara. Shalat siang malam. Membaca Quran berebut khatam. Itikaf di masjid hingga lupa pada anak dan istri.

Ibarat pendulum kita berkumpul pada wilayah ketaatan. Kita sedang “melarikan diri” dari kesulitan dan tantangan. Pasar lengang. Pendidikan ditelantarkan. Hukum dibiarkan. Teknologi dibuang.

Semua kita tinggalkan sebelum kemudian diambil alih orang. Tidak serta merta orang Yahudi menguasai semua basis ekonomi. Teknologi dan pertahanan. Orang China memenuhi pasar dan menguasai produksi. Orang Nasrani mengambil semua peran politik dan kekuasaan.

***
Di masjid bergemuruh suara perih yang tak jelas antara lirih suara rintihan para pengeluh atau doa para mujahid yang menyiapkan perang melawan tantangan. Isak dan tangis haru. Kita mengadu pada Allah yang Maha Perkasa. Ya Rabb .. kami dizalimi. Kami dimiskinkan. Pasar kami diambil. Rumah kami di duduki. Anak-anak kami disesatkan dengan informasi buruk. Saya tak tahu dengan cara apa Tuhan menjawab keluhan kita.

***
Kita sedang disibukkan dengan urusan menjemput surga. Dunia tidak penting. Hanya bangkai anak kambing cacat. Maka buang semua yang sudah kau dapat.
Maka impian hidup abadi menjadi alternatif.

Seorang mengambil jalan cepat ke surga. Mencari musuh. Membunuh atau dibunuh. Berjalan mencari musuh Allah agar Syahid bisa segera di dapat. Berpayah shalat seperti Juraij rahib Yahudi yang abai pada lingkungan sosialnya. Ber-taat taat meninggalkan semua kehidupan dunianya. Menikmati ke sendirian di mihrabnya. Berteman tasbih dan kitab suci. Dengan itukah surga hendak kita raih.

***
Ditempat lain nabi saw memberi apresiasi pada pelacur yang memberi minum anjing kehausan dengan sepatunya. Pada Yahudi yang berbagi makanan pada saat musim lapar dibanding majelis dzikir. Memberi keselamatan pada pencari kayu bakar dari gigitan ular karena sepotong roti yang disedekahkan. Bahkan nabi memberi apresiasi tinggi pada orang yang melapangkan jalan ke masjid ketimbang pengunjung masjid yang hanya ingat sajadahnya.Jangan tinggalkan pasar. Jangan telantarkan pendidikan …

Orang yang terus memberi kemanfaatan sekitarnya. Peduli pada tetangga yang lapar. Pada teman yang kesulitan. Terus berbagi dengan pikiran, tenaga dan hartanya. Terus berkarya meski hanya sekedar memindah duri di tengah jalan.

Jalan menuju surga ada di duri di tengah jalan saat ia dipinggirkan. Pada air putih yang diminum dengan mengucap Basmalah. Pada kerabat yang sakit saat di jenguk dan di doakan .. Bukan pada bubuk mesiu bau anyir darah teman seiman … “.

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Padhang Makshyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here