Komunitas Padhang Makhsyar #91: Muhammadiyah Habitat Radikalisme, Benarkah? (Tadarrus-8)

0
91
Foto sniper membidik diambil dari wallpaper.wide

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Menarik dibaca soal Ismuba (Al Islam-kemuhammadiyahan dan bahasa Arab) kelas XI pada ujian akhir semester genap tahun 2018. Pada soal : Sifat tercela dibawah ini halal dibunuh. Jawab nya : Sifat Riddah atau murtad.
Saya menganggap ini soal yang wajar apalagi sebagai seorang muslim. Tapi tak urung ada beberapa teman yang bertanya tentang soal itu. Apa urgensi dan kompetensi yang ingin di capai dengan soal itu diberikan pada anak-anak SMU kelas XI, tanpa penjelasan.

*^^^*
Belum pernah ada survey setidaknya semacam studi awal tentang keber-agama-an di Persyarikatan kita pasca reformasi. Namun ada indikasi beberapa perubahan signifikan terutama yang bersangkut pada sikap ideologis dan politik Muhammadiyah yang terindikasi ada kecenderungan agak ke ‘kanan’ . Pilpres 2014 pasca kekalahan Prabowo Subiyanto yang diusung oleh PAN, berikut isu-isu tentang SARA. Aksi Bela Islam 212, GNPF dan beberapa isu yang diawali dari kasus penistaan agama oleh Ahok dan puncaknya pada pilihan koalisi Pilpres 2019. Menjadi isu hangat di Persyarikatan.

Belakangan mulai ada beberapa aktifis Persyarikatan yang melawan rezim pemerintahan dengan berbagai alasan, dan hal ini tentu sangat menarik karena sebelumnya dikenal akomodatif dan kooperatif. Pernyataan beberapa da’i dan mubaligh dalam berbagai khutbah dan tausiyah yang sempat saya ikuti mencerminkan yang demikian termasuk berbagai statement dan status.

Ada pergeseran sikap sebagian aktifis Persyarikatan yang signifikan, semula koperatif-akomodatif menjadi non-kooperatif bahkan cenderung oposan. Sinyalemen AM Hendro Priyono mantan kepala BIN patut disimak bahwa:”radikalisme tumbuh subur karena ada habitat yang melindungi dan memberi ruang”, meski tak menunjuk langsung kepada habitat yang mana, setidaknya beberapa indikator menunjukkan bahwa Persyarikatan kita menjadi salah satu habitat sebab ada di tengah episentrum yang tengah bergolak itu.

*^^*
Harakah serumpun seperti Salafy, Wahaby, Mujahidin Indonesia, HTI, Tabligh, Ikhwan dan berbagai varian radikal lainnya lebih nyaman dan kerasan tinggal sementara di Muhammadiyah. Itulah yang kemudian sedikit mengubah tampilan wajah Muhammadiyah. Salah satu sebab utamanya adalah karena ada kesamaan dalam kaifiyat ibadah mahdhoh: tidak menggunakan ushali, tidak qunut shubuh, Basmalah dibaca sirr saat shalat, tidak membaca Sayidina pada tahiyat dan tidak jahr saat berdzikir usai shalat. Dan yang muta’akhir berada dalam satu shaf menggulingkan rezim Jokowi dengan alasan yang kebetulan sama.

Tidak semua yang anti rezim Jokowi adalah teman. Dalam beberapa hal kita boleh sama. Tapi tidak harus membebaskan semua ruang yang kita punya untuk harakah-harakah yang kelihatannya serumpun. Dalam
kasus HTI misalnya, aktifis Muhammadiyah justru yang paling depan membela dan memberi perlindungan meski sebelumnya kerap konflik. Bagaimanapun ini adalah sikap ambigu yang dalam beberapa hal cukup membingungkan jamaah Persyarikatan yang bergiat di akar rumput.

Tidak dipungkiri ada beberapa kelompok gerakan yang belum punya rumah, memilih tinggal sementara di Persyarikatan kita. Bukanya tak boleh, tapi kita harus tetap jaga dan waspada (ribath) agar kasus pindah tangan amal usaha (AUM) tak kembali berulang.

Radikalisme tidak lahir secara generik dari rahim Muhammadiyah tapi dari idelogi tamu yang numpang sementara. Tak urung Ketua PP MUHAMADIYAH Kyai Haidar Nashir mengangkat dan mengingatkan kembali kepada jamaahnya bahwa Persyarikatan yang ia pimpin itu adalah gerakan moderat (wasath) sebagai upaya membendung arus deras pikiran kanan. Meski sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan bukan AUM yang pindah tangan tapi kemungkinan paling besar adalah ‘migrasi- ideologi’ warga Persyarikatan kepada harakah baru yang dilihat lebih lincah dan gesit. Dan ini jauh lebih berbahaya bagi eksistensi pergerakan kita ke depan. Wallahu a’lam

*Wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Padhang Makhsyar Community

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here