Komunitas Padhang Makhsyar # 92: Sertifikasi Ulama: Ketika Kebenaran Di Tangan Ulama Galak (Tadarrus-8)

0
136
Foto para ulama diambil dari sujananews.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Gagasan Pak Lukman Hakim, Menteri Agama tentang sertifikasi ulama, kyai, ustadz dan da’i patut dicermati secara serius dan pikiran jernih. Bahwa kemudian kita menolak atau menerima itu soal lain setelah semua dipikir masak, tidak emosional dan tenang sehingga tidak melahirkan pikiran rancu dan tidak obyektif sebagaimana kita lihat umat Islam sekarang ini. Gampang marah, mudah tersinggung dan membuat pernyataan melintir dari substansi, ditambah peran media sosial yang terus tidak terkendali membuat suasana tidak kondusif.

Kedudukan dan peran ulama sangat strategis sebagai gembala yang dianuti banyak orang. Faktor psikologis ulama sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya) juga signifikan dengan posisi penjaga moral, sekaligus penyangga negara, para ulama selalu berada di garis depan ketika kezaliman merajalela, pada masa penjajahan hampir semua pergerakan melawan kompeni selalu diawali dari pesantren.

Tidak mengherankan jika pesantren dan pemimpinnya menjadi target kompeni untuk dibunuh dan dilemahkan. Tradisi melawan kezaliman terus menguat di kalangan pesantren dan halaqah-halaqah yang menyebar baik di masjid atau mushala. Demikian sunatullah ini berlangsung hingga hari ini dan seterusnya. Sebab ulama sejatinya selalu menjadi anti-tesis terhadap kezaliman, keculasan, rezim korup, para penguasa tiran dan semua yang membawa unsur merusak.

*^^*
Menjadi menarik ketika negara ikut ambil bagian, berihktiar mengatur, mengontrol dan mengendalikan para ulama, bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan kepada publik, maka Pemerintah lewat menteri agama kemudian mencoba membatasi ruang gerak para ulama sebab bagaimanapun juga tidak dipungkiri ada sebagian ulama yang tausiyah-taushiyahnya selalu menyebar kebencian, permusuhan dan adu domba.

Seakan kebenaran hanya ditangan para ulama galak, yang keras berapi-api dan gampang menyebut kafir, musyrik, bid’ah, sesat, thaghut, berhala, dajjal, halal darah dan hartanya, dan istilah-istilah lainnya yang terbilang keras dibilang benar, sebaliknya yang lembut, kooperatif dan akomodatif disebut liberal, munafik, antek penguasa dan segala macam.

Fenomena ini demikian jelas dipandang oleh siapapun, dari pemikiran ini mungkin negara memiliki cara pandang berbeda dengan umumnya kita. Negara punya kewajiban menjaga dan menciptakan rasa aman dan stabilitas bersama, betapa sulitnya negara berada ditengah beragam ideologi dan manhaj dan ulama menjadi bagian dari penataan dan pengendalian maka sertifikasi ulama menjadi pilihan meski harus dihadapkan pada berbagai pendapat.

Saya berpikir ini tidak adil, bila kebijakan ini dianggap lahir dan bermula dari keputusan panik penguasa yang takut hilang legitimasi. Atau ulama yang tanpa kendali merongrong wibawa negara. Keduanya berada dalam posisi saling berhadapan dan mengesampingkan jalan kompromi.

*^^*
Menarik disimak pernyataan Ketua PP Muhammadiyah Kyai Haji Haidar Nashir berikut:
“Jauh lebih penting bagi Menteri Agama dan semua pihak untuk mengembangkan akhlak mubaligh, semacam etika tabligh. “Itu jauh lebih kuat dan memberi makna yang bersifat dakwah. Sehingga etika dakwah itu, para mubaligh tahu mana yang benar dan salah, tahu yang baik dan tidak baik untuk disampaikan. Mungkin suatu masalah benar, tapi tidak baik disampaikan di muka publik. Ada juga wilayah pantas dan tidak pantas. Sesuatu yang benar dan baik ketika ada konteks tertentu menjadi tidak patut untuk disebarkan dan disampaikan. Hal ini membutuhkan kepekaan supaya mengutamakan hal yang lebih menolak mudharat”.

Sertifikasi ulama tak harus selalu dipandang bernuansa politik, sehingga apapun yang dilakukan oleh penguasa kita agresif menolak. Sementara kasat mata kita melihat ada banyak yang berdakwah dengan cara tak patut.

Ini adalah ujian dan kita harus tenang menghadapi, tidak gampang terprovokasi dan marah, kemudian membuat pernyataan gaduh, yang gampang dibaca lawan. Kita tunggu saja apa maunya lalu kita lawan bersama-sama. Sebelumnya mari berkhusnudzan, kita baca situasi dan cerdik melangkah, sembari terus bertawakal … ”

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota batu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here