Komunitas Padhang Makhsyar #95: Ilmu Tanpa Hikmah (Tadarrus-13)

0
103
Foto orang meditasi diambil dari youtube.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Datang seorang Sahabatku yang suaminya barusan meninggal. Meninggalkan harta waris lima ekor kambing. Satu jantan dan empat ekor betina. Seorang isteri dan dua anak perempuan dan satu anak laki. Bagaimana cara membagi lima ekor kambing tadi. Dijual dibagi berupa uang, disembelih dibagi daging atau dibagi per-ekor hidup-hidup.

Di tempat lain, karibku barusan ditinggal ayahnya. Hanya meninggal kan sebidang tanah dan rumah yang dihuni ramai. Ibunya yang sudah sepuh. Kakaknya bersama suami dan anak anaknya yang masih kecil tinggal di belakang. Di kamar sebelah tinggal pasangan baru, suami istri juga tinggal disitu dan beberapa yang masih lajang membujang. Sementara ada dua saudaranya yang membuat rumah dan tinggal.

Salah seorang diantaranya setelah menerima penjelasan ustadz pada pengajian yang diikutinya menjelaskan bahwa waris adalah soal krusial. Melanggarnya bisa masuk neraka kekal dengan azab yang menghinakan. An Nisa:14. Ia teringat harta waris ayahnya yang belum dibagi. Ia pun bergegas pulang ia kumpulan adek dan kakaknya setelah diberi ijin ibunya. Ia uraikan semua yang ia dapat dari pengajian pagi tadi. Penjelasan beserta ayat dan hadits tak satupun dibantah. Kemudian keluarga itu bersepakat membagi waris yang angka-angkanya sudah ditentukan Allah.

*^*
Karena kesulitan membagi, maka diambil jalan mudah. Tanah dan rumah dijual kemudian dibagi berupa uang untuk memudahkan pembagian. Rumah dan tanah dijual. Waris dibagi. Persis seperti yang ditentukan Allah dalam surah: an Nisa:12

Kini ibunya tinggal di rumah petak yang di kontrak dari bagian warisnya, pun dengan putra putrinya dan cucu-cucunya hidup terpisah satu sama lainnya dari rumah besar yang pernah berpuluh tahun mereka dibesarkan.

*^*
Waris bukan hanya soal angka-angka. Atau berapa rupiah di dapat. Berapa luas tanah di injak kan. Atau seberapa megah rumah dihuni. Tapi ada hikmah yang kita kerap lupa.

Dua orang berselisih berebut waris, datang menghadap kepada Rasulullah. Dua kakak beradik itu beradu argumentasi untuk memperkuat pendapat masing-masing. Selesai keduanya beragumentasi Rasulullah saw bersabda:’Aku hanya manusia biasa seperti kalian. Aku bisa saja memenangkan salah satu dari kalian karena pandai beragumentasi padahal harta itu sesunguhnya bukan milikmu. Atau sebaliknya aku bisa saja mengalahkanmu padahal harta itu milikmu hanya karena kamu kurang pandai beragumentasi.

Rasulullah saw melanjutkan :”Ketahuilah jika salah satu dari kalian berdua aku menangkan padahal harta itu bukan hakmu maka sesungguhnya aku telah memberimu sepotong bara api neraka, maka pulang dan berundinglah jika sudah kau dapatkan segeralah kemari, demikian Rasulullah saw memberi nasehat kepada dua bersaudara yang berebut waris itu.

Beberapa waktu berselang dua kakak beradik yang berebut waris itu datang menghadap. Satu diantaranya berkata: ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya harta ini bukan milikku tapi waris adikku, kemudian yang satunya tak kalah tangkas dan berkata: ‘Wahai Rasulullah harta ini bukan milikku tapi waris kakakku”. Kemudian Rasulullah bersabda:”jika kalian berdua sudah saling ridha maka pulang dan berbagilah”.

‘Saling-ridha’ itu kata kunci dalam pembagian waris, bukan hanya sekedar hitungan matematis 1/2, 1/3 atau 1/8. Lantas keluarga berantakan tak karuan. Ambil hikmahnya agar ilmu yang tersampaikan tak membuat sengsara. Allah menghendaki kemudahan bagimu bukan kesulitan karena piciknya pandangan. Wallahu a’lam

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here