Komunitas Padhang Makhsyar #96: Syndrome Mayoritas

0
81
Foto kerumunan orang banyak diambil dari nu.online

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ada sekitar 62. 806 desa dan kelurahan tersebar di seluruh penjuru tanah air dan ranting Muhammadiyah yang telah berdiri baru sekitar 8.107 atau sekitar 12% dari total keseluruhan.

*^^*
Tak kurang dari 80 juta orang diaku sebagai warga NU. Muhammadiyah tak mau kalah 30 juta katanya, dan FPI mengklaim 24 juta angotanya tersebar di berbagai kota di seluruh nusantara. Belum lagi Nahdhatul Wathan besutan Nasaruddin Umar mengaku hampir semua penduduk Bima, Lombok dan Mataram adalah anggotanya. Kemudian ribuan majelis dan halaqah semuanya mengklaim anggotanya banyak dan jutaan. Lah terus yang lain kebagian apa .. ?

Mungkin saya termasuk sedikit yang ragu, meski sensus menyatakan kurang lebih 78% penduduk Indonesia mengaku beragama Islam, klaim mayoritas sering menipu dan tidak sedikit kemudian bangga seakan bisa melakukan apapun. Menegakkan syariah, ekonomi syariah, rumah sakit syariah, menegakkan khilafah bahkan Presiden dari kalangan sendiri, ah .. seperti pungguk merindukan bulan, siapa bilang kita mayoritas, cari dukungan 10 ribu saja harus bersusah payah itupun terancam gagal.

****
Perasaan menjadi mayoritas adalah sindrom akut. Tidak percaya diri dan tanda takut. Dan kita sekarang berada pada titik ini. Absurd. Pemimpi dan utopis. Realitas pahit yang harus kita telan.

One man one vote adalah jawaban paling sahih. Apakah kita mayoritas atau sekedar buih yang dibawa angin kemana berjalan tak punya prinsip dan pendirian. Nyatanya Islam itu sedikit dan lemah. Masjid sepi pengunjung. Halaqah apalagi. Setiap Pemilu selalu keok. Jangankan pilihan Presiden. Ditingkat desa saja calon yang diusung orang Islam kerap kalah. Bahkan tak sedikit yang ditinggal. Tidak kurang 38 propinsi dan 600 kota berapa dikuasai. Tak sesuai dengan klaim mayoritas.

Ambil contoh dua ormas Islam yang diakui terbesar. Kultur NU hanya ada di Jawa Timur dan sebagian Jogja dan Jateng. Muhammadiyah elitis di perkotaan dan kalangan menengah. Lainnya merata sedikitnya.

****
Berselisih dan konflik itu bawaan kita (Islam) sejak lahir. Tak ada yang mau mengalah. Selalu ingin di depan dan memimpin. Lantas apa yang dapat dibanggakan dari jumlah. Jangan berharap NU mau pilih calon yang di usung MUHAMADIYAH sebaliknya MUHAMADIYAH pun juga tak bakal memilih calon yang di usung NU. Muhaimin Iskandar misalnya siapa diantara kita mau pilih.

Prof Mahfudz pun habis kita bully meski sebelumnya kita sanjung puji hanya karena BPIB. Lantas kita punya siapa ? Sebab semua stok pemimpin yang kita punya satu persatu rontok sebelum bertarung. Ironisnya justru kita sendiri yang bikin mereka semua habis. Semua pemimpin bahkan ulama kita habisi sendiri dengan cara yang menurut saya sangat kejam dengan pembunuhan karakter.

Nyatanya politik Islam sangat sensi dan tak bisa sedikit berbeda. Kita pasang harga tinggi, para pemimpin gak boleh ada sedikit kesalahan atau penyimpangan dengan norma dan ukuran yang kita buat sendiri-sendiri. Dan ini sangat berat. Pak Amien, Buya Syafi’i, Prof Din, Habib Rizieq, Tuan Guru Bajang, bukan malaikat mereka manusia biasa menunggu salah untuk kemudian kita bully ramai. Mungkin benar ketika para ulama Syiah istna asy’ary yang mema’shumkan semua Imam-nya agar para pengikut tak gampang menilai dengan ukuran benar salah yang dibuat sendiri.

*^^*
Maka dibuatlah packaging bahwa Islam itu mayoritas. Di Semua negara juga sama. Bahkan di negara-negara Arab lebih parah. Islam hanya sekedar simbol tapi Realitasnya memprihatinkan. Modernisasi dan globalisasi telah berhasil menggerus aqidah. Dan mungkin saja Islam hanya tinggal nama. Lalu apa benar kita menjadi mayoritas ..

 


*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here