Komunitas Padhang Makhsyar #97: Al Asyar Al Awaakhir

0
549
Foto indahnya pemandangan bulan purnama diambil dari bersama dakwah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbany Yusuf*

Ini berkumpulnya malam Jumat pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir (Al ‘asyr Al awaakhir). Sebuah peristiwa langka yang tidak setiap tahun hadir.

*^^*
Carilah Lailah Al Qadr pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Malam ini sebagian jamaah tidur sedikit berharap dapat menjemput Lailah Al Qadar. Tak ada yang bisa memastikan bahwa malam ini adalah malamnya juga tak ada yang bisa memastikan bahwa malam ini bukan malamnya. Kami hanya ingin menjemputnya dengan beberapa tanda dan petunjuk dari para ulama salihin dan para siddiqin …

Para ulama khilaf tentang kapan waktunya malam itu. Setidaknya ada sekitar 45 pendapat yang tersebar sebagaimana dalam kitab syarh shahih Imam Bukhari: fathul baari. Semuanya mungkin. Ini mutlak hak Allah. Hanya ridha dan ijin-Nya kita bisa mendapat dan menjumpainya. Boleh jadi dalam waktu bersama sebagian kita dapat menyaksikan sebagian yang lain tidak. Demikian ibnul Abbas ra, Ibnul Araby, Al Atho dan beberapa ulama salaf berpendapat.

Ketika sebagian besar masih lelap karena penat yang sangat ada sebagian yang masih sempat bertasbih memuji kebesaran dan mohon ampunan dan berharap surga … ibadah puasa memang bukan hanya soal mencegah makan dan minum pada siang hari tapi ini soal kepatuhan hati, ketundukan jiwa, dan kerinduan yang sangat kepada Nabi saw.

*^^*
Inilah malam seribu bulan berkumpul segala keutamaan dan kebaikan. Pada malam itu Al Quran pertama kali diturunkan. Semesta bertasbih. Semua yang ada di bumi tunduk patuh bersujud kepada yang maha mulia. Hati orang beriman di lembutkan, jiwa nya dibersihkan, pikirannya dibeningkan. Kesalahannya di maafkan, dosanya diampuni, doanya di ijabah. Hartanya diberkati.

Malam itu penuh keberkahan. Semua ibadah dilipat ribuan kali. Setara dengan seribu bulan. Manzilah-manzilah langit diperlihatkan. Malaikat berbaris-baris bertasbih dan memuji Allah Tabaraka wata’ala, Allah Yang Agung. Penguasa semesta raya. Shalawat dan salam kepada nabi junjungan rasul penutup akhir jaman.

Ikhtiar agar menjaga spiritualitas puasa ramadhan, bukan hanya berlapar dan haus. Puasa bukan hanya pekerjaan fisik tapi juga bathiniyah. Setiap kita melakukan mi’radz pada capaian hati dan jiwa. Dhahir kita ada di bumi: membaca kalam Allah, bersedekah, berbuat bajik, bersujud bertasbih memuji, sementara bathin kita berjalan menuju langit tujuh, mencari esensi dan makna. Mendekat pada pelataran yang dihampar Allah azza wa jalla. Kita bersimpuh dan bersujud. Mengaku segala dosa. Telanjang tanpa hijab. Tak ada yang lain. Hanya Allah.

*^^*
Puasa adalah untuk-Ku kata Allah maka hanya Allah saja yang akan memberikan balasannya. Ini soal rahasia antara Allah taala dan hambaNya secara personal. Disitulah menariknya, sebab hubungan antara hamba dan Khaliq sesungguhnya adalah privasi yang orang lain tak bisa menilai. Tak ada jaminan kyai atau habaib lebih mulia di sisi Allah tabaraka wataala dibanding tukang marbot atau Imam besar dengan jamaah berkaos oblong. Sebab hanya Allah saja Yang Maha Tahu siapa wali dan kekasih-Nya …
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here