Komunitas Padhang Makhsyar #81: Bom: Conspiracy Theory

0
196

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Konspirasi butuh martir untuk dikurbankan. Pada sebuah niat jahat yang dilakukan rapi. Tujuan utamanya adalah menciptakan kebingungan kolektif yang disetujui ramai. Maka siapapun bisa menjadi bagian konspirasi. Sebut saja rentetan bom di rumah Tuhan ngagel Surabaya kemarin lusa, berlanjut di Sidoarjo, pembakaran masjid at Taqwa di Simalungun, pembubaran berbagai halaqah dan pelarangan beberapa ustadz, teror terhadap Kyai Umar Bashri, teror orang gila terhadap ulama termasuk perusakan gereja Lidiwina dan pembakaran mushala Muhammadiyah di Sleman tak bisa dilihat secara parsial, berdiri sendiri.

Kita mesti melihatnya dengan jernih, kepala dingin dan tidak gegabah mengumbar pernyataan yang membuat suasana kian panas. Apalagi disertai sikap saling curiga dan takut di mangsa pada kebetulan dengan agama atau aliran yang berbeda.

Agama menjadi alat paling ampuh untuk membakar. Ada kesadaran lebih tentang kepentingan yang dibungkus. Kemudian agama berubah menjadi picu lahirnya berbagai konflik dan pertengkaran. Ironis nya sebagian besar umat Islam malah larut dalam sebuah permainan besar. Bukannya menyelesaikan masalah malah sebaliknya menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Menjadi bagian benang kusut yang sulit di urai.

*^^*
Kita berada pada tahap kebingungan kolektif. Tidak tahu mengaku tahu. Kemudian membuat pernyataan seperti paling tahu. Hanya gambar orang orang mati terpanggang, kaca pecah berserak dan motor yang hangus. Menjadi pembenar bahwa teoriris bukan hantu khayalan tetapi sesuatu yang ada di tengah kita mengintip dan membantai kapan mereka mau.

Beberapa kita berteori : pertama, ini rekayasa agar umat Islam terlihat buruk. Radikal dan sumber kekerasan. Para pelaku adalah pembunuh bayaran dengan janji dan bayaran tinggi. Mereka hanya martir yang dikurbankan. Rezim berkuasa kemudian menjadi kambing hitam, mereka inilah teroris yang sebenarnya. Kedua, tindakan teroris adalah niscaya dan nyata adanya. Sikap radikal bisa hinggap dimanapun termasuk satu keluarga penuh harapan ini. Siapa sangka dua sejoli berikut anaknya yang imut itu melakukan tindakan bom bunuh diri yang heroik atas nama Tuhan.

Teroris selalu berkait dengan cadar, janggut dan gamis, lantas Islam menjadi kambing hitam. Beberapa yang tak suka sebut Islam agama bar-bar yang suka bau anyir darah. Menyebar kebencian dan ketakutan.

Bagi sebagian orang, melawan kemunkaran adalah soal instan, dakwah tak harus menunggu lama sebab hidup sangat singkat. Dakwah harus cepat dan segera bisa diukur hasilnya, disampaikan pagi subuh maka sore maghrib bisa dilihat hasilnya pun sebaliknya disampaikan malam saat isya, pagi fajar juga harus bisa dilihat hasilnya. Begitu seterusnya. Kesabaran adalah kunci untuk menghilang frustrasi dan sebagian kita tidak bersabar maka dakwah dianggap gagal dan jalan pintas dipilih itu soalnya.

*^^*
Kebingungan kolektif mengemuka dan itu tujuannya. Saling curiga diantara para pemeluk agama dan pemuja aliran, syukur kemudian saling membalas dengan tindakan serupa maka prilaku teroris menyebar dan menular seperti virus.

T.P.Thornton dalam Terror as a Weapon of Political Agitation (1964) mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstra normal, khususnya dengan penggunaan kekerasan dan ancaman kekerasan.

Terorisme dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu enforcement terror yang dijalankan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka, dan agitational terror, yakni teror yang dilakukan menggangu tatanan dan melawan rezim yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik tertentu.

Kita pilih yang mana …

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here