Komunitas Padhang Makhsyar #295: Kritis dan Banyak Tanya Penyebab Binasa

0
279
Ilustrasi diambil dari social identity and groups network

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Fiqh diperdalam bukan untuk di amalkan. Kalam diperdebatkan bukan untuk di imani. Filsafat dikaji hanya untuk kebanggaan. Tasawuf di telaah bukan untuk melembutkan hati. Dunia di cari dengan amalan akhirat. Sementara kekuasaan diperebutkan dengan dalih agama– nby

*^^^*
Nabi saw bersabda; ‘Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan: “Nabi saw melarang desas-desus (gossip), banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta”.

Kenapa Bani Israel begitu dibenci dan dikutuk .. karena banyak bertanya kemudian berselisih. Sebab banyak betanya dan kritik akan mengeraskan hati, membuat jarak, konflik dan permusuhan. Lantas apakah kita tidak boleh bertanya ? Boleh bahkan sangat dianjurkan: ” ., .. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (an-Nahl/16:43). Tapi bukan bertanya untuk mencari salah apalagi bermaksud menjatuhkan karena kebencian dan permusuhan.

Dua orang bertanya kepada Nabi saw dengan maksud mengejek : di mana ayahku ? satunya lagi bertanya: di mana ontaku ? Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian’.” (al-Mâ-idah-5:101)

*^^*
Kritik secara leterljck dimaknai sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya; tak ada salahnya mengkritik .. tapi untuk apa? Tak ada salahnya banyak bertanya tapi untuk apa ? Bukankah kritik dan banyak tanya adalah tradisi Yahudi.

Ada ulama yang menutup diri dari berbagai pertanyaan sehingga ilmunya menjadi beku dan stagnan. Sebaliknya para ulama ahli ra’yu membuka leluasa berbagai pertanyaan dan soalan. Kemudian mereka sibuk mencari jawab dan pembenar. Maka lahirlah berbagai ikhtilaf dan selisih. Sebab dari segala kebencian dan permusuhan.

Kemudian ada kelompok tengah sebagai kompromi. Di antara pertanyaan itu ada yang hukumnya fardhu ‘ain, seperti bertanya tentang hukum-hukum thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan selainnya. Di antaranya juga ada yang hukumnya fardhu kifayah, yaitu bertanya untuk memperluas ilmu-ilmu agama seperti ilmu fara-idh (pembagian warisan) dan peradilan. Dan di antaranya juga ada yang hukumnya dianjurkan, seperti bertanya tentang amal-amal kebaikan dan amal-amal taqarrub yang berkisar pada hal-hal yang dianjurkan Nabi saw
untuk di amalkan bukan untuk diperdebatkan apalagi dipertengkarkan.

*^^^*
Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih baik daripada sahabat-sahabat Rasulullah saw, Mereka hanya bertanya tentang dua belas masalah dan kesemuanya ada di dalam Al-Qur’ân; ‘Mereka bertanya kepadamu tentang minuman keras dan judi’ -al-Baqarah:219; ‘Mereka bertanya kepadamu tentang bulan Haram’ – al-Baqarah:217); ‘Mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim’ –al-Baqarah: 220. Mereka betanya kepadamu tentang infaq — Al Baqarah:215.
Wallahu ta’ala a’lm

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here