Komunitas Padhang Makhsyar: Muhammadiyah dan Tantangan Tajdid Part Two (-1)

0
65
Foto Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Beland diambil dari Darussalamcentre.org

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Dalam kitab Al Mustadrak Rasulullah saw berujar sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap penghujung 100 tahun orang yang mepernbaharui agamanya untuk umatnya”, bermula dari kata yajdiddu, tajdid bermakna membaharui. Membarui barang lama yang aseli karena untuk dikembalikan pada ke asliannya.

Al Maududi menyebut tajdid sebagai ikhtiar membersihkan Islam dari kotoran-kotoran jahiliyah. Jahiliyah menurut Sayyid Qutb adalah segala sesuatu yang menyalahi syara’. Kejahiliyahan itu berlaku universal. Bisa di jaman primitif, jaman nabi atau jaman modern sekarang ini. Dalam arti luas tajdid dimaknai sebagai gerakan untuk membersihkan dan memurnikan seluruh ajaran Islam: aqidah maupun ibadah dari berbagai penyimpanan dan panetrasi ajaran luar Islam di sepanjang masa.

Maka tajdid dalam makna ini lebih sarat dan dekat dengan nuansa pemurnian atau purifikasi. Bukan pada bagian modernisasi atau pembaharuan dalam arti mengadakan sesuatu yang baru yang modem.

*^^*
Pelakunya disebut mujaddid. Semacam gharib atau orang asing yang kerap dipuji Rasulullah.: ‘Sungguh sangat baik orang yang asing itu. Para sahabat bertanya: siapakah orang-orang asing itu. Rasulullah menjawab : yaitu orang-orang baik ditengah orang-orang yang jahat yang cukup banyak. Sehingga lebih banyak orang yang mendurhakai ketimbang orang yang mentaati”.

Pada makna lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bertutur: Sungguh baik sekali orang-orang yang asing itu ? Sahabat bertanya : siapakah orang asing itu ya Rasulullah ? Yaitu orang-orang yang memperbaiki keadaan di saat yang lain merusaknya .. jawab Rasulullah.

*^^*
Syaikh Abduh menyebut Al Islam mahjubun bil muslimin-Islam tertutup oleh umatnya sendiri. Maksudnya Islam tertutup atau tercampur dengan ajaran syirk, bid’ah, takhayul dan churafat. Islam tak murni lagi dan menjadi tertutup.

Seperti itulah yang dialami oleh umat terdahulu terhadap ajaran agama nabinya. Agama Ibrahim yang hanif berubah Syirik menjadi Au-tsan. Agama Musa yang tauhid berubah syirk menjadi Yahudi. Agama Isa yang tauhid juga berubah syirk menjadi Nashrani. Agama agama samawi mengalami reduksi iman.

Tajdid pada akhirnya menampakkan dua wajah sekaligus. Purifikasi dan pemodernan. Keduanya kerap tampil bersama meski dominan salah satunya. Satu sisi tajdid adalah ikhtiar memurnikan pemahaman Islam sesuai aselinya yang kemudian menjadikan tampak keras, radikal dan menakutkan. Tapi pada sisi lain juga bermakna pemodernan yang dicirikan menerima kelonggaran dan semua kebenaran bahkan toleran terhadap segala perbedaan dan perubahan yang dianggapnya bagian dari kebenaran Islam itu sendiri.

*^^*
Tajdid sejatinya adalah keleluasaan untuk melakukan purifikasi dan pemodernan Islam secara keseluruhan tanpa ikatan definisi yang rigid. Bisa berbentuk ide, gagasan atau aplikasi keseharian Islam. Tajdid juga bermakna ikhitiar memperbaiki cara pandang.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here