Komunitas Padhang Makhsyar #104: New Era: Silaturrahim Digital

0
103
Foto jabat tangan dengan tangan virtual diambil dari kompasiana.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Silaturahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah adalah bentuk mashdar dari kata washola-yashilu yang berarti ‘sampai, menyambung’. ar-Raghib al-Asfahani berkata, “yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (al-Mufradat fi Gharibil Qur-an, hal. 525)

Adapun kata ar-rahim, Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, “adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)

Jadi, silaturrahim artinya adalah ‘menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab’.

*^^*
Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” Maka para sahabat pun menjawab, “Tentu, Ya Rasulullah”. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka. Semua ini adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah pernah bersabda, “Silaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahmi itu adalah menyambung apa yang telah putus” (HR. Bukhari).

*^^*
Teknologi informasi telah merubah banyak. Termasuk pola hubungan dan kekerabatan. Geimenschaaf dan geisselschaaf juga telah berubah. Dan kita hidup diantaranya. Silaturahim tak harus mengetuk pintu atau mengucap salam sebanyak tiga kali. Tapi cukup lewat mms, wa, telpon atau lainnya.

Teknologi olahan Yahudi memaksa kita harus merubah ta’rif silaturahim. Bukankah nabi saw juga tidak memberi contoh bagaimana teknis rinci bersilaturahim, dan kita sedang masuk era digital. Tidak hanya silaturahim, ucapan bela sungkawa saat ta’ziah, atau ucapan selamat lainnya. Bahkan senyum pun juga bisa dikirim lewat tanda emoticon. Babak baru keber-agama-an, mengubah pola, tradisi : budaya dan kebiasaan juga norma dan etika. Banyak pilihan dan kita terserah suka yang mana. Dan jangan bersedih ketika kita tertimpa sakit atau musibah lainnya tak satupun teman datang berkunjung sebab cukup hanya ucapan lewat wa itupun dari kopas. Wallahu a’lam

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here